Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bila Pembatasan Aktivitas Diperketat, Begini Dampaknya ke Pengelola Hypermart (MPPA) dan Transmart

Kunjungan yang menurun bisa mengakibatkan koreksi pada volume transaksi yang berimbas pada macetnya perputaran stok barang di gerai ritel.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 20 Juni 2021  |  08:56 WIB
Gerai Hypermart Mall Bali Galeria, Kuta, buka lagi setelah direnovasi 2,5 bulan. - Bisnis/Feri Kristianto
Gerai Hypermart Mall Bali Galeria, Kuta, buka lagi setelah direnovasi 2,5 bulan. - Bisnis/Feri Kristianto

Bisnis.com, JAKARTA - Pengeloa Hypermart dan Transmart angkat bicara terkait risiko pengetatan aktivitas masyarakat akibat lonjakan Covid-19.

Kunjungan yang menurun bisa mengakibatkan koreksi pada volume transaksi yang berimbas pada macetnya perputaran stok barang.

“Ritel ini kuncinya di inventori dan transaksi. Kalau kunjungan dan daya beli menurun, inventorinya bisa tinggi. Meski transaksi turun tetapi inventori jalan sebenarnya tidak apa. Yang jadi masalah saat inventori naik. Di ritel itu inventori adalah aset kami, kalau inventorinya mandek sebulan, artinya mati [perputaran] uangnya di situ,” kata Head of Corporate Communication PT Matahari Putra Prima Tbk. (MPPA) Fernando Repi, Jumat (18/6/2021).

Repi mengemukakan durasi maksimum perputaran barang di ritel adalah 30 sampai 45 hari. Durasi tersebut menjadi dasar penilaian apakah penjualan berjalan baik. Dia mencatat perputaran barang yang lambat pernah dirasakan peritel kala pengetatan mobilitas diterapkan pemerintah pada kuartal II/2020.

“Saat awal pandemi dari 28.000 sampai 30.000 jenis produk yang diperdagangkan, hanya 6.000 sampai 8.000 jenis yang laku. Terbayang bagaimana uangnya berputar jika pembatasan diterapkan dengan ketat?” katanya.

Karena itu, dia berharap pemerintah tetap memberi izin peritel modern untuk beroperasional tanpa pembatasan yang ketat demi memperkecil risiko mandeknya pergerakan inventori. Di sisi lain, penjualan lewat gerai MPPA masih menjadi penyangga utama di tengah ketatnya persaingan penjualan secara daring.

“Beri kesempatan ritel tetap beroperasi. Karena kami sudah terapkan protokol yang ketat di toko offline. Sebagai alternatif kami juga sudah bekerja sama dengan e-commerce, tetapi persaingan di e-commerce ini kan ketat. Sebisa mungkin kami harus mencari strategi yang tepat, mengatur harga yang tepat, dan menawarkan merchandise yang tepat untuk dijual di online,” kata Repi.

Terpisah, Vice President Corporate Communication PT Trans Retail Indonesia Satria Hamid mengatakan perencanaan bisnis Transmart bakal memastikan perputaran barang bakal dihitung dengan cermat. Perusahaan juga akan memastikan pelayanan tetap diberikan secara prima agar masyarakat tetap nyaman bertransaksi.

“Tentunya kami perlu secara cermat menghitung inventori, kami manage perputaran barang kami. PSBB yang ketat jelas berpengaruh ke ritel, karena itu kami akan atur stoknya dan mengecek setiap hari perputarannya,” kata Satria.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ritel hypermart matahari putra prima TRANSMART Carrefour
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top