Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Permintaan dari China Terus Meningkat, Harga Bijih Besi Makin Panas

Pasokan bijih besi saat ini belum mampu menutupi kenaikan permintaan yang terjadi, sehingga pasar mempertanyakan seberapa lama kenaikan permintaan dari China akan berlangsung.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 10 Mei 2021  |  15:58 WIB
Ilustrasi - Reuters
Ilustrasi - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga bijih besi melanjutkan relinya seiring dengan lonjakan permintaan di China dan pemulihan ekonomi global yang mulai berjalan.

Dilansir dari Bloomberg pada Senin (10/5/2021), harga bijih besi berjangka di Singapura sempat melonjak hingga 10 persen pada rekor tertinggi US$226 per ton. Level harga bijih besi baru saja menembus US$200 per ton pada pekan lalu.

Adapun, komoditas yang menjadi bahan baku pembuatan baja ini menikmati kenaikan permintaan dari China yang memicu terjadinya defisit pasokan global. 

Analis Komoditas Commonwealth Bank of Australia Vivek Dhar mengatakan, pasokan bijih besi saat ini belum mampu menutupi kenaikan permintaan yang terjadi.

“Pasar tengah mempertanyakan seberapa lama kenaikan permintaan dari China akan berlangsung sepanjang tahun ini,” katanya dikutip dari Bloomberg.

Adapun, harga baja juga mengalami kenaikan seiring dengan sektor-sektor usaha seperti konstruksi dan manufaktur yang memasuki periode puncak kesibukan operasional. Gelontoran stimulus juga ikut memicu reli harga bijih besi.

“Ada kemungkinan lonjakan permintaan dari negara-negara di luar China akan kembali pulih pada tahun ini. Setelahnya, kita akan melihat permintaan baja global mengalami peningkatan yang akan membuat level harga bijih besi bertahan di kisaran saat ini,” jelas Dhar.

Tidak hanya bijih besi, tembaga juga mencetak rekor harga tertingginya sepanjang sejarah seiring dengan optimisme pasar terhadap pemulihan ekonomi global mendorong lonjakan permintaan pada  komoditas.

Harga komoditas yang dijuluki sebagai kompas perekonomian dunia tersebut sempat melesat hingga US$10.440 per ton sebelum tiba pada US$10.417 per ton. Rekor harga tersebut tercipta bahkan setelah munculnya rilis data ketenagakerjaan AS yang mengecewakan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

komoditas bijih besi
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top