Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Terpapar Gejolak Harga Minyak, Begini Rekomendasi Saham Grup Barito BRPT dan TPIA

Fluktuasi harga minyak global masih akan menjadi tantangan besar bagi PT Barito Pacific Tbk. untuk memacu kinerjanya pada tahun ini.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 29 Maret 2021  |  19:11 WIB
Direksi Barito Pacific berfoto usai rapat umum pemegang saham tahunan kinerja 2018 di Jakarta, Rabu (15/5/2019). - Bisnis/M. Nurhadi Pratomo
Direksi Barito Pacific berfoto usai rapat umum pemegang saham tahunan kinerja 2018 di Jakarta, Rabu (15/5/2019). - Bisnis/M. Nurhadi Pratomo

Bisnis.com, JAKARTA - Kinerja emiten milik orang terkaya kelima Indonesia Prajogo Pangestu, PT Barito Pacific Tbk., dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan bisnis pada tahun ini.

Head of Investment Reswara Gian Investa Kiswoyo Adie Joe mengatakan bahwa fluktuasi harga minyak global masih akan menjadi tantangan besar bagi PT Barito Pacific Tbk. untuk memacu kinerjanya pada tahun ini.

Hal itu mengingat harga minyak akan mempengaruhi harga bahan baku entitas usaha PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA), yaitu nafta. Semakin tinggi harga minyak maka semakin mahal harga nafta sehingga berdampak terhadap pos margin perseroan.

Pasalnya, segmen bisnis petrokimia masih menjadi kontributor utama pendapatan perseroan, yaitu mencapai 77 persen terhadap keseluruhan pendapatan BRPT secara konsolidasi.

Untuk diketahui, sepanjang tahun berjalan 2021 harga minyak jenis WTI untuk kontrak Mei 2021 di bursa Nymex naik 22,65 persen dan berada di posisi US$59,79 per barel pada perdagangan Senin (29/3/2021) hingga pukul 13.31 WIB.

Sementara itu, harga minyak jenis Brent untuk kontrak Juni 2021 di bursa ICE telah naik 22,59 persen dan berada di posisi US$63,45 per barel pada perdagangan Senin (29/3/2021) hingga pukul 13.31 WIB.

“Tantangan bisnis BRPT masih kepada gejolak harga minyak, walaupun secara overall demand petrokimia sebenarnya bagus karena secara domestik saja Indonesia itu masih impor bahan-bahan petrokimia,” ujar Kiswoyo kepada Bisnis, Senin (29/3/2021).

Dia menjelaskan bahwa prospek kebutuhan plastik tiap tahun meningkat dan pasokan domestik berpotensi mengalami defisit.

Bahkan, ketika rencana proyek kompleks petrokimia kedua milik TPIA yang masih dalam tahap pengembangan sudah beroperasi penuh, Kiswoyo menilai pasokan domestik tetap tidak terpenuhi dan Indonesia diprediksi tetap impor.

Untuk tahun ini saja, permintaan produk petrokimia berpotensi meningkat seiring dengan pemulihan sektor otomotif karena bahan petrokimia juga menjadi bahan dasar dari produk interior otomotif.

Dia merekomendasikan buy on weakness untuk BRPT dan TPIA karena secara jangka panjang kedua saham itu sangat prospektif. Adapun, target price BRPT di level Rp1.300, sedangkan TPIA memiliki target price di Rp13.000.

Secara terpisah, analis Binaartha Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama mengatakan bahwa prospek kinerja BRPT dan TPIA masih akan sangat dipengaruhi fluktuasi harga minyak. Apalagi, pergerakan minyak global tahun ini sangat dinamis.

“Padahal, secara jangka panjang BRPT memiliki komitmen dalam menjalankan ekspansi bisnis yang baik seperti adanya beberapa rencana dan proyek yang tengah berlangsung, termasuk pengembangan pembangkit listrik, pembangunan kompleks petrokimia, hingga pengembangan eksplorasi baru Salak Binary,” ujar Nafan kepada Bisnis, Senin (29/3/2021).

Dia merekomendasikan hold/maintain buy BRPT dengan target price Rp1.065, sedangkan TPIA hold/ maintain buy dengan target price Rp9.700.

Pada penutupan perdagangan Senin (29/3/2021), BRPT parkir di level Rp1.005 atau naik 6,35 persen. Sepanjang tahun berjalan 2021, BRPT terkoreksi 8,64 persen.

Berdasarkan konsensus Bloomberg, hanya 1 dari 6 analis yang mengulas saham BRPT merekomendasikan beli, sedangkan 5 analis lainnya merekomendasikan hold, dan tidak ada yang merekomendasikan jual.

Target harga BRPT dalam 12 bulan ke depan adalah Rp1.198, yang mencerminkan potensi kenaikan 19,2 persen dari posisi harga saat ini.

Sementara itu, TPIA parkir di level Rp10.975 atau naik tipis 0,69 persen pada penutupan perdagangan Senin (29/3/2021). Sepanjang tahun berjalan 2021, TPIA naik 20,94 persen.

Berdasarkan konsensus Bloomberg, hanya 1 dari 6 analis yang mengulas saham TPIA merekomendasikan jual, sedangkan 5 analis lainnya merekomendasikan hold, dan tidak ada yang merekomendasikan beli.

Target harga TPIA dalam 12 bulan ke depan adalah Rp9.112,5, yang mencerminkan potensi koreksi 2,7 persen dari posisi harga saat ini.

Di sisi lain, pada 2020 BRPT mencatatkan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar US$36,27 juta sepanjang 2020.

Perolehan itu turun 17,8 persen dibandingkan dengan perolehan 2019 sebesar US$44,13 juta. Namun, laba 2020 berhasil melampaui estimasi analis melalui konsensus bloomberg di posisi US$34 juta.

Selain itu, BRPT mencatatkan pendapatan sebesar US$2,33 miliar pada 2020, melemah tipis 2,8 persen dibandingkan dengan pendapatan 2019 sebesar US$2,4 miliar. Kinerja pendapatan 2020 juga berhasil melampaui estimasi analis di kisaran US$2,27 juta.

Konsensus Bloomberg memperkirakan pada 2021, BRPT dapat mengantongi pendapatan US$2,59 juta dan laba bersih US$90,4 juta.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rekomendasi saham chandra asri barito pacific prajogo pangestu
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top