Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Prospek Pertumbuhan Ekonomi Dorong Penguatan Bursa Asia

Indeks Nikkei 225 Jepang terpantau menguat 0,89 persen, sedangkan Hang Seng naik 0,71 persen pagi ini. Di Singapura, indeks FTSE Straits Stime melonjak 1,64 persen.
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 08 Maret 2021  |  09:21 WIB
Bursa Asia -  Bloomberg.
Bursa Asia - Bloomberg.

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Senin (8/3/2021) karena optimisme atas stimulus jumbo AS senilai US$1,9 triliun dari Presiden Joe Biden serta pemulihan global.

Di sisi lain, harga minyak mentah melonjak setelah fasilitas minyak diserang.

Dilansir Bloomberg, indeks Nikkei 225 Jepang terpantau menguat 0,89 persen, sedangkan Hang Seng naik 0,71 persen pagi ini. Di Singapura, indeks FTSE Straits Stime melonjak 1,64 persen.

Sementara itu, indeks berjangka S&P 500 naik tipis. Stimulus AS pindah ke DPR setelah Senat mengesahkan undang-undang tersebut. Sementara itu, data menunjukkan ekspor China melonjak.

Adapun minyak menguat setelah Arab Saudi mengatakan salah satu fasilitas minyak paling terlindungi di dunia diserang. Minyak West Texas Intermediate untuk kontrak April 2021 naik 2,15 persen ke level US$67,51 per barel.

Sementara itu, bursa AS rebound pada hari Jumat (5/3). Semua sektor utama indeks S&P 500 dan teknologi naik hasil.

Imbal hasil US Treasury sepuluh tahun stabil setelah mencapai 1,6 persen karena data pekerjaan AS mengalahkan perkiraan. Imbal hasil tetap menjadi fokus di tengah kekhawatiran tentang risiko inflasi.

Data ekonomi yang lebih baik dan prospek lebih banyak stimulus fiskal telah mendorong imbal hasil obligasi dan memicu pertanyaan mengenai valuasi bursa saham.

Imbal hasil obligasi naik AS karena prospek ekonomi yang jauh lebih kuat, pejabat Federal Reserve mengatakan, tengah mengecilkan kebutuhan akan respons kebijakan moneter pada Jumat (5/3/2021) kepada Bloomberg.

"Jelas dengan langkah-langkah stimulus berada di posisinya, ada beberapa kekhawatiran untuk inflasi, tetapi tidak ada yang menggagalkan prospek ekuitas yang relatif positif pada saat ini," kata CEO JPMorgan Asset Management Rachel Farrell, dikutip Senin (8/3/2021).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia bursa as
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top