Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

IHSG Bisa Terdongkrak Pekan Depan, karena Sentimen Stimulus AS?

Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada pekan depan berpeluang terdorong oleh stimulus jumbo yang digelontorkan pemerintah Amerika Serikat (AS).
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 07 Maret 2021  |  16:48 WIB
Karyawan mengamati pergerakan harga saham di Jakarta, Senin (15/2/2021). Bisnis - Himawan L Nugraha
Karyawan mengamati pergerakan harga saham di Jakarta, Senin (15/2/2021). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Stimulus jumbo yang digelontorkan pemerintah Amerika Serikat (AS) diharapkan dapat mendorong penguatan pasar saham, dengan catatan penguatan US Treasury tetap tertahan.

Tercatat, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,51 persen ke level 6258,75 pada perdagangan akhir pekan lalu, JUmat (7/3/2021).

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee pasar saham berpotensi rebound pada awal pekan ini, Senin (8/3/2021), salah satunya didorong oleh pengesahan stimulus yang diajukan Joe Biden kepada Senat AS.

Sinyal ini kian kuat apalagi di akhir pekan pasar Wall Street menguat menyusul tren kenaikan yield obligasi pemerintah AS yang mulai tertahan. Tercatat, yield US Treasury tenor 10 tahun melemah ke level 1,55 persen setelah sempat menyentuh posisi di atas level 1,6 persen.

“Turunnya yield US Treasury di akhir pekan dari level tertinggi, ditambah harapan paket stimulus fiskal jumbo USA membuat pasar saham di perkirakan akan menguat di awal pekan ini,” tulis Hans dalam publikasinya yang dikutip pada, Minggu (7/3/2021)

Dia memperkirakan IHSG bergerak dengan support di level 6,245 sampai 6,173 dan resistance di level 6,307 sampai 6,394. Adapun sejumlah sektor yang diprediksi naik lebih banyak antara lain perbankan, properti, dan komoditas.

Akan tetapi, tambah Hans, jika yield US Treasury naik lagi, dikhawatirkan indeks komposit akan kembali terkoreksi.

Dia menuturkan kesepakatan paket stimulus fiskal akan menjadi sentimen positif pasar keuangan di jangka pendek, tetapi berpotensi mendorong naiknya yield US Tresury akibat potensi pemulihan ekonomi yang cepat.

Selain akan menekan saham, kenaikan yield US Treasury jugamembuat obligasi negara berkembang seperti Indonesia menjadi semakin rentan. Bahkan, jika yield US Treasury terus naik mendekati level 2 persen mungkin akan memicu arus keluar dana asing.

“Surat utang negara berkembang dianggap berisiko karena valuasi yang sudah berlebihan, prospek inflasi yang lebih cepat, dan sikap Federal Reserve yang tak menganggap kenaikan US Treasury sebagai hal yang patut dikhawatirkan,” paparnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG amerika serikat stimulus
Editor : Yustinus Andri DP

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top