Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bumerang Lonjakan Harga Minyak, Akhir Pekan Anjlok 3,2 Persen

Pada penutupan perdagangan Jumat (26/2/2021), harga minyak WTI kontrak April 2021 anjlok 3,2 persen atau 2,03 poin menjadi US$61,5 per barel. Harga minyak Brent kontrak Mei 2021 turun 1,12 persen atau 0,75 poin menuju US$66,13 per barel.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 27 Februari 2021  |  11:13 WIB
Ilustrasi. Kapal tanker pengangkut minyak. - Bloomberg
Ilustrasi. Kapal tanker pengangkut minyak. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak turun tajam pada akhir perdagangan Jumat (26/2/2021) atau Sabtu pagi WIB, terseret penguatan dolar AS dan perkiraan kenaikan pasokan minyak mentah sebagai respons terhadap kenaikan harga di atas level prapandemi.

Pada penutupan perdagangan Jumat (26/2/2021), harga minyak WTI kontrak April 2021 anjlok 3,2 persen atau 2,03 poin menjadi US$61,5 per barel. Harga minyak Brent kontrak Mei 2021 turun 1,12 persen atau 0,75 poin menuju US$66,13 per barel.

Mengutip Antara, Dolar AS yang menguat saat imbal hasil obligasi pemerintah AS bertahan di dekat level tertinggi satu tahun, membuat minyak yang dihargakan dalam greenback lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Namun, pada minggu ini, Brent melonjak 4,8 persen dan WTI terangkat 3,8 persen, dan keduanya melambung sekitar 20 persen pada bulan ini, dipicu gangguan pasokan di Amerika Serikat dan optimisme atas pemulihan permintaan ketika program vaksinasi COVID-19 mulai diluncurkan di banyak negara.

Dolar AS menguat secara luas terhadap rival utamanya. Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, melonjak 0,82 persen menjadi 90,8690 pada akhir perdagangan Jumat (26/2/2021). Secara historis, harga minyak berbanding terbalik dengan harga dolar AS.

"Ini adalah waktu yang tidak pasti - sepertinya bukan waktu untuk memuat posisi aset-aset berisiko," kata Bob Yawger, direktur Energy Futures di Mizuho di New York, waspada terhadap potensi peningkatan produkis dari OPEC dan sekutunya di pertemuan minggu depan.

Sementara itu, laporan persediaan AS minggu ini menunjukkan peningkatan stok minyak yang mengejutkan.

Pelaku pasar juga menunggu pertemuan penting oleh produsen-produsen minyak utama. Investor bertaruh bahwa pertemuan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) minggu depan dan sekutunya, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, akan menghasilkan lebih banyak pasokan yang kembali ke pasar.

Produksi minyak mentah AS turun pada Desember, bulan terakhir yang datanya tersedia, menurut laporan bulanan dari Badan Information Energi AS (EIA).

Meskipun ada pembicaraan tentang pengetatan-pengetatan fundamental, sisi permintaan pasar tidak menjamin tingkat harga minyak saat ini, kata beberapa analis.

Harga minyak mentah AS juga menghadapi tekanan dari permintaan kilang yang lebih lambat setelah beberapa fasilitas Gulf Coast ditutup selama badai musim dingin pekan lalu.

Kapasitas penyulingan sekitar 4,0 juta barel per hari (bph) tetap ditutup dan dapat memakan waktu hingga 5 Maret untuk semua kapasitas melanjutkan operasinya, meskipun ada risiko penundaan, analis di J.P. Morgan mengatakan dalam sebuah catatan minggu ini.

Para hedge fund dan pengelola uang lainnya menaikkan posisi net long berjangka dan opsi minyak mentah AS mereka dalam minggu terakhir hingga 23 Februari, kata Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS (CFTC).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak minyak harga minyak mentah wti

Sumber : Antara

Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top