Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Obligasi Korporasi Mulai Tumbuh, BEI: Perusahaan Siap Ekspansi

Saat ini jumlah dan nilai obligasi/sukuk korporasi yang ada di pipeline BEI, tercatat ada 10 emisi yang terdiri dari 3 sukuk dan 7 obligasi, dengan total emisi yang akan diterbitkan sebesar Rp10,5 triliun.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 17 Februari 2021  |  14:57 WIB
Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna Setia memberikan penjelasan di Jakarta, Rabu (20/3/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan
Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna Setia memberikan penjelasan di Jakarta, Rabu (20/3/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai outstanding obligasi korporasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai menunjukkan pertumbuhan. Sejumlah katalis positif disebut akan jadi pendorong

Mengacu pada data BEI per 16 Januari 2021, total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 473 emisi dari 130 emiten dengan nilai nominal outstanding Rp 427,09 triliun dan US$ 47,5 juta.

Dari angka tersebut, jumlah emisi obligasi dan sukuk baru yang dicatatkan sepanjang tahun berjalan hingga sudah mencapai Rp 5,11 triliun dari 8 obligasi yang diterbitkan oleh 8 emiten.

Adapun, saat ini jumlah dan nilai obligasi/sukuk korporasi yang ada di pipeline BEI, tercatat ada 10 emisi yang terdiri dari 3 sukuk dan 7 obligasi, dengan total emisi yang akan diterbitkan sebesar Rp10,5 triliun.

Outstanding obligasi korporasi mulai menunjukkan pertumbuhan pasca adanya penurunan yang disebabkan oleh pandemi,” ujar Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia I Gede Nyoman Yetna, Rabu (17/2/2021)

Dia menyebut tren pertumbuhan penerbitan obligasi korporasi diperkirakan akan berlanjut seiring dengan hadirnya sejumlah katalis positif di pasar, salah satunya adalah momentum pemulihan ekonomi 2021.

“Ada kebutuhan dana ekspansi perusahaan di tahun 2020 yang tertunda, serta adanya tren refinancing perusahaan atas utang jatuh tempo,” tutur Nyoman.

Selain itu, kebijakan moneter dan fiskal yang tetap akomodatif dengan potensi tren suku bunga rendah yang terus berlanjut akan menurunkan cost of fund penerbitan surat utang korporasi.

Stimulus dari bank sentral diproyeksi akan meningkatkan likuiditas di pasar keuangan sehingga penempatan dana perbankan di pasar obligasi diperkirakan meningkat. Ditambah tren pelemahan dolar AS yang akan mendorong aliran dana asing ke negara berkembang.

“Secara umum kondisi tersebut memberikan optimisme akan pertumbuhan ekonomi dan diharapkan penerbitan obligasi dan sukuk di tahun ini lebih kondusif dibandingkan tahun 2020,” imbuhnya.

Nyoman juga menilai kesempatan penerbitan obligasi dan sukuk di tahun ini kian terbuka lebar seiring likuiditas yang baik di pasar sekunder, apalagi jumlah investor pasar modal saat ini terus bertambah dengan pesat.

Tercatat, sepanjang tahun 2020 lalu, peningkatan investor di pasar modal yang terdiri atas investor saham, obligasi, maupun reksadana, mengalami kenaikan 56 persen mencapai 3,88 juta investor.

“Kenaikan investor ini melonjak 4 kali lipat dalam 4 tahun terakhir. Kondisi tersebut memberikan optimisme akan likuiditas obligasi maupun sukuk, dimana dapat menjadi alternatif pilihan investasi yang menarik bagi Investor,” katanya lagi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa efek indonesia Aksi Korporasi obligasi korporasi
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top