Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Saham BRIS Amblas 13 Persen Dalam Sepekan, Ustad Yusuf Mansur Ogah Jual

Ustad Yusuf Mansur investasi di BRI Syariah merupakan bagian dari perjuangan membesarkan industri syariah dan ekonomi umat. Dia mengaku tidak masalah jika kelak sahamnya terdilusi seiring dengan rencana merger BRI Syariah dengan BSM dan BNI Syariah.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 24 Oktober 2020  |  16:46 WIB
Mahfud MD, Ustaz Yusuf Mansur dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) bertemu pada Senin malam (15/4/2019) di kantor MMD Initiative, Jakarta. - Istimewa
Mahfud MD, Ustaz Yusuf Mansur dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) bertemu pada Senin malam (15/4/2019) di kantor MMD Initiative, Jakarta. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Harga saham PT Bank BRI Syariah Tbk. anjlok dalam sepekan terakhir, dipicu pengumuman rencana merger pada 21 Oktober 2020. Salah satu pemegang saham BRI Syariah, Ustad Yusuf Mansur mengaku akan tetap menjadi investor anak usaha Bank Rakyat Indonesia tersebut.

Berdasarkan data Bloomberg, saham BRIS ditutup di level 1.210 pada perdagangan Jumat (23/10/2020). Saham BRIS anjlok tiga sesi beruntun sejak Rabu (21/10/2020) sehingga secara kumulatif dalam sepekan terakhir sudah amblas 13,26 persen.

Yusuf Mansur menuturkan, dirinya akan tetap memegang saham BRIS dan tidak masalah dengan porsi saham yang terdilusi. Dia menekankan, investasi di BRI Syariah merupakan bagian dari perjuangan membesarkan industri syariah dan ekonomi umat.

"Ini bukan bicara cash in, cash out...[kita ingin] dapat bagi hasil dari Allah di dan dari setiap kegiatan perbankan syariah. Nanti keberkahan dunia [akan] ngikut," tuturnya kepada Bisnis, Kamis (22/10/2020).

Yusuf Mansur memang berinvestasi sejak awal BRIS menawarkan saham ke publik pada 2018. Berdasarkan catatan Bisnis, Yusuf Mansur membeli saham BRIS lewat Kopindo Berjamaah dan  PT Paytren Aset Manajemen.

Untuk diketahui, rencana merger BRI Syariah dengan Bank Syariah Mandiri (BSM) dan BNI Syariah memang akan menggerus porsi saham investor eksisting. Hal ini terjadi karena skema merger menggunakan mekanisme konversi saham BSM dan BNI Syariah menjadi saham BRIS.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) selaku induk BRIS, kepemilikan sahamnya tergerus dari 73 persen menjadi 17,4 persen. Investor publik juga harap-harap cemas karena porsi saham turun dari 18,47 persen ke 4,4 persen.

Seorang investor BRIS bercerita, skema merger tidak menguntungkan investor ritel sama sekali. Dia menilai prospek BRI Syariah yang ciamik setelah merger tidak tercermin dari harga penawaran untuk investor yang menolak merger.

“Ini ibarat kena prank. Banyak angka bagus soal setelah merger tapi masa cash offer hanya 1x PBV [price to book value], gak ada gula-gula sama sekali buat investor ritel,” ujar seorang investor BRIS yang enggan disebut namanya.

Investor memang bisa meminta BRIS untuk membeli saham investor yang menolak merger hingga rapat umum pemegang saham luar biasa digelar pada 19 November 2020. 

Terkait hal itu, BRIS dan BRI telah sepakat untuk menyerap saham milik investor BRIS yang menolak merger. Harga saham yang akan diserap sebesar Rp781,29 per saham.

Yusuf Mansur menilai investor publik tidak punya pilihan terkait dilusi kepemilikan saham. Dia menekankan, dilusi adalah sebuah keniscayaan.

"Ke depan dilusi itu keniscayaan. Makanya jaga niat banget atau ya mangga ditarik, dilepas," ujarnya kepada Bisnis.

Dia memberikan gambaran, bank adalah bisnis yang sarat modal. Untuk menunjang ekspansi di masa mendatang, bank perlu menambah modal. Sementara itu, investor, terlebih investor ritel tidak selalu memiliki kemampuan untuk menambah modal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bri syariah yusuf mansur merger bank syariah
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top