Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

China Siap Pimpin Pemulihan Permintaan Aluminium Global

Impor produk aluminium China dalam 8 bulan pertama tahun ini telah melonjak 347 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, menjadi sebesar 1,64 juta ton.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 15 Oktober 2020  |  08:30 WIB
Aktivitas pekerja di pabrik aluminium milik Hyamn Group, di Cirebon, Jawa Barat, Rabu (25/4/2018). - JIBI/Endang Muchtar
Aktivitas pekerja di pabrik aluminium milik Hyamn Group, di Cirebon, Jawa Barat, Rabu (25/4/2018). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - China siap memimpin pemulihan permintaan aluminium global pada kuartal akhir tahun ini seiring dengan rencana pemerintah mendorong sektor infrastruktur, jaringan listrik, dan otomotif sebagai salah satu upaya memperbaiki ekonominya.

Analis Bloomberg Intelligence Yi Zhu mengatakan bahwa impor produk aluminium China dalam 8 bulan pertama tahun ini telah melonjak 347 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, menjadi sebesar 1,64 juta ton.

Sementara itu, sepanjang Agustus China mengimpor 429.464 ton aluminium tidak ditempa dan produk aluminium, naik 724 persen dibandingkan Agustus 2019 dan naik 9,8 persen dari Juli 2020.

Permintaan domestik China berhasil meningkat tajam berkat rencana pemerintah untuk mendorong sektor infrastruktur, jaringan listrik, dan otomotif untuk menopang pertumbuhan ekonomi China tahun ini setelah terkontraksi akibat pandemi Covid-19.

Akibat rencana menggenjot sektor infrastruktur itu, setidaknya China membutuhkan 990.000 ton aluminium tahun ini.

Adapun, Yi Zhu menjelaskan bahwa sesungguhnya permintaan aluminium China sudah terlihat mulai pulih sejak kuartal II/2020, sedangkan permintaan aluminium masih dalam tekanan dan cenderung lesu akibat Covid-19.

Selain itu, permintaan pun telah didukung oleh keuntungan arbitrase atau kondisi di mana harga komoditas di China yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga luar negeri dan yuan yang lebih kuat yang telah mendorong minat membeli aluminium lebih banyak dari luar negeri.

“Impor aluminium China mungkin terus meningkat pada September dan Oktober karena permintaan luar negeri masih lemah dan pedagang China terus menarik pengiriman masuk karena keuntungan arbitrase. China akan terus memimpin pemulihan permintaan aluminium global,” tulis Yi Zhu seperti dikutip dari publikasi riset, Rabu (14/10/2020).

Lebih lanjut, Yi Zhu juga mengatakan bahwa permintaan aluminium di China akan meningkat pada paruh kedua tahun ini dibandingkan dengan semester I/2020.

Kendati demikian, permintaan China sepanjang 2020 diproyeksi terkoreksi 2 persen secara year on year karena pemulihan pada paruh kedua tahun ini tidak cukup untuk mengimbangi penurunan pada semester I/2020/

Yi Zhu memprediksi permintaan aluminium baru akan kembali ke pertumbuhan positif pada 2021, naik 2 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Di sisi lain, meningkatnya permintaan aluminium China sebagai importir utama logam dasar itu dapat meningkatkan harga aluminium global dan pendapatan produsen utama termasuk Alcoa, Rusal, Rio Tinto, Chalco, Norsk Hydro, China Hongqiao, dan South32.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Selasa (13/10/2020) harga aluminium di bursa London menguat 0,13 persen ke level US$1.858 per ton. Harga telah menguat hingga 27,09 persen dari level terendahnya tahun ini di kisaran US$1.462 per ton pada medio Mei 2020.

Sepanjang tahun berjalan 2020, harga telah menguat hingga 2,65 persen.

POTENSI MENGUAT

Analis Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan bahwa semua harga komoditas secara umum masih mampu untuk menguat lebih lanjut seiring dengan angin segar dari The Fed yang membiarkan suku bunga acuannya di tingkat rendah untuk waktu yang cukup lama.

Angin segar itu telah membuat dolar AS menjadi lebih lemah dan membuat harga komoditas, termasuk aluminium, menjadi lebih murah untuk pembeli yang berdenominasi mata uang selain dolar AS.

Untuk aluminium, harga aluminium di bursa London jatuh hingga 15,69 persen pada kuartal I/2020. Namun, harga telah bangkit menguat 6,13 persen pada kuartal II/2020 dan terus berlanjut bullish pada kuartal III/2020 hingga menguat 8,98 persen.

“Penguatan akan berlanjut di akhir kuartal ini dengan penggerak utama tidak berubah. Bahkan, penggerak dari sisi makro mungkin memiliki dampak yang lebih kuat pada logam industri secara keseluruhan sehingga bisa naik lebih tajam,” ujar Wahyu kepada Bisnis, Rabu (14/10/2020).

Dia pun mengakui, China, sebagai importir utama dunia, akan memimpin pemulihan permintaan aluminium global hingga akhir tahun. Namun, tidak semua alasan harga mengalami pemulihan berkat China.

Dia menjelaskan, jalur pemulihan global telah asimetris dan indikator ekonomi telah menunjukkan pemulihan yang berkelanjutan dari aktivitas industri dari negara-negara besar lainnya.

Di seluruh Asia, laporan terbaru menunjukkan bahwa beberapa pembeli telah menyetujui premi harga pada kuartal IV/2020 naik 11 persen dari kuartal sebelumnya.

Selain itu, di Eropa, premia fisik juga telah meningkat dan bahkan ada sinyal premi harga yang lebih baik juga terjadi di Brasil.

“Walau ancaman pelemahan masih ada, tetapi harapan rebound masih cukup kuat. Artinya, aluminium bisa kembali masuk ke area harga pada 2019 di US$1.689-US$1.936 per ton. Jika bullish berlanjut maka potensi ke upper area 2019 bisa terbuka di atas US$1.900an per ton,” papar Wahyu.

Sementara itu, Analis Goldtrust Futures China Jia Zheng mengatakan bahwa harga logam dasar telah kembali naik setelah sentimen paket stimulus besar AS kembali bergulir. Hal ini bisa menjadi titik tumpu pemulihan permintaan di luar China.

“Dengan pemulihan China sudah dinilai pasar, laju dan skala peningkatan Pemulihan di luar China akan menjadi penting, apakah reflasi perdagangan dan komoditas mengambil langkah substansial lainnya lebih tinggi selama 12 bulan ke depan,” ujar Jia Zheng seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (14/10/2020).

Kendati demikian, Analis TD Securities termasuk Bart Melek mengatakan dalam sebuah catatan, bahwa pedagang logam dasar akan segera memasuki mode wait and see dalam beberapa pekan ke depan.

“Hal itu seiring dengan menjelang dua peristiwa politik utama dalam bebarapa bulan mendatang yang dapat menjelaskan penarik sisi permintaan, yaitu pemilu AS & Sidang pleno lima tahun China,” papar Bart.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

komoditas china aluminium
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top