Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Meski Ceruk Pasarnya Masih Sempit, Prosepk Green Bond Menarik

Head of Research & Market Information Department Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) Roby Rushandie mengatakan green bond saat ini akan menarik bagi investor atau institusi dari kalangan tertentu yang tertarik dengan isu lingkungan.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 15 Oktober 2020  |  21:08 WIB
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia - Antara/Prasetyo Utomo
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia - Antara/Prasetyo Utomo

Bisnis.com, JAKARTA - Kendati pasar green bond atau obligasi berwawasan lingkungan dinilai masih sempit di Indonesia, instrumen investasi satu ini memiliki prospek yang menarik seiring meningkatnya kesadaran wawasan lingkungan.

Head of Research & Market Information Department Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) Roby Rushandie mengatakan green bond saat ini akan menarik bagi investor atau institusi dari kalangan tertentu yang tertarik dengan isu lingkungan.

Namun, bagi investor lainnya daya tarik tersebut kembali lagi kepada risiko dan imbal hasil yang ditawarkan. Apalagi menurutnya di Indonesia green bond belum terlalu populer dan belum banyak perusahaan yang menawarkan obligasi jenis tersebut.

Senada, Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana menuturkan saat ini instrumen investasi berwawasan lingkungan tengah banyak dicari investor, terutama di pasar global karena saat ini konsep berkelanjutan (sustainable) mulai diminati.

“Memang investor jaman sekarang wawasannya sudah jangka panjang jadi mereka relatif memilih surat utang yang punya premis sustainable atau green, ditambah performa ESG [environment, social, governance] bond juga ketika pandemi outperform yang lain,” tuturnya kepada Bisnis, Rabu 914/10/2020)

Selain itu, Fikri menilai saat ini mulai banyak investor muda mendominasi pasar modal, yang masih memiliki horizon waktu yang cenderung lebih panjang, sehingga memilih instrumen berwawasan lingkungan demi siklus hidup dan bisnis yang lebih berkelanjutan.

“Mereka mikirnya tahun 90an itu terlalu diekspos untukk pertumbuhan ekonomi tapi sustainability-nya nggak ada, jadi sekarang ketika mereka udah jadi pengambil keputusan, mereka mulai memperhatikan hal itu,” tambah Fikri.

Di Indonesia sendiri, Fikri menyebut green bond masih merupakan hal yang baru. Perusahaan pertama yang menerbitkan green bond adalah PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dengan nilai Rp500 miliar pada 2018 lalu dan sejak itu emiten yang menerbitkan surat utang serupa bisa dihitung jari.

Fikri menilai sejumlah prasyarat seperti ketentuan alokasi mayoritas dana yang didapatkan untuk program berwawasan lingkungan dan sertifikasi “green” yang harus dilakukan oleh pihak ketiga seperti Dewan Standar Ikatan Iklim membuat emiten belum banyak yang tertarik.

Meskipun demikian, dia menilai lambat laut tren green bond akan semakin meningkat di Indonesia karena tren tersebut sudah populer di global. Menurutnya, tren di pasar domestik pasti akan mengikuti karena beradaptasi dengan pasar.

“Secara prospek juga seharusnya oke, karena premisnya sustainability harusnya profitnya juga sustain, margin-nya juga sustain. Dan dampaknya juga akan lebih baik, baik untuk social responsibility maupun yield return yangg mereka dapatkan,” tukas dia.

Senada, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto menyebut pasar green bond di Indonesia masih terbilang sempit. Pasalnya, suplai akan instrumen satu itu juga masih sedikit.

“Kalau dari pasar sih investor pasti akan menyambut ya apalagi kalau kuponnya memang menarik dan sebetulnya investor juga mulai aware dengan wawasan lingkungan,” ujarnya kepada Bisnis.

Dia menyebut perlu ada pemanis (sweetener) agar perseroan di dalam negeri lebih tertarik untuk menerbitkan green bond, misalnya insentif perpajakan bagi emiten yang akan berekspansi di proyek berwawasan lingkungan dan mencari pendanaan lewat green bond.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi Obligasi investor green bond
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top