Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bio Farma Resmi Produksi Vaksin Merah Putih, Begini Skemanya

Sebagai langkah awal, Bio Farma akan melakukan penyediaan vaksin jangka pendek dengan Sinovac dan CEPI.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 15 Oktober 2020  |  14:25 WIB
Peneliti beraktivitas di ruang riset vaksin Merah Putih di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/8/2020). Vaksin COVID-19 buatan Indonesia yang diberi nama vaksin Merah Putih tersebut ditargetkan selesai pada pertengahan tahun 2021. ANTARA FOTO - Dhemas Reviyanto
Peneliti beraktivitas di ruang riset vaksin Merah Putih di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/8/2020). Vaksin COVID-19 buatan Indonesia yang diberi nama vaksin Merah Putih tersebut ditargetkan selesai pada pertengahan tahun 2021. ANTARA FOTO - Dhemas Reviyanto

Bisnis.com, JAKARTA – Holding BUMN farmasi PT Bio Farma (Persero) memaparkan sejumlah strategi dan program jangka panjang kolaborasi untuk menghadirkan vaksin Covid-19 nasional atau yang lebih akrab disebut vaksin merah putih.

Project Integration Manager Research & Development Bio Farma Neni Nurainy mengatakan sebagai langkah awal perseroan akan melakukan penyediaan vaksin jangka pendek dengan tech transfer proses hilir (formulasi) menggunakan bulk vaksin Covid-19 dengan calon mitra yakni Sinovac asal China dan Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI).

“Dalam jangka panjang kita ingin melakukan kemandirian vaksin. Kita melakukan kerjasama konsorsium vaksin merah putih bekerjasama dengan Eijkman, Badan Litbangkes, dibantu dengan Menristek dan Kemenkes,” ungkapnya dalam sesi Ngopi BUMN, Kamis (15/10/2020).

Neni menerangkan pemerintah melalui program percepatannya telah memesan sebanyak 5 juta dosis bulk vaksin yang akan mulai datang pada November 2020 dengan total 50 juta dosis hingga Maret 2021 dari Sinovac, Sinopharm, dan CanSino.

Terkait vaksin yang akan didatangkan pada bulan November dan Desember, Neni menjelaskan vaksin tersebut merupakan program pemerintah yang dilakukan dalam rangka penggunaan emergensi kepada mereka yang berisiko tinggi seperti tenaga kesehatan dan TNI/POLRI.

Neni menilai, menurut jadwal, uji klinis Sinovac akan selesai akhir Januari 2021. Namun melihat dari dinamikanya, uji klinis bisa jadi selesai lebih cepat. Hal ini mengingat dari total 1.620 subjek, pada minggu lalu sudah ada 1.565 subjek yang sudah melewati suntikan calon vaksin tahap pertama dan 843 subjek untuk suntikan calon vaksin tahap kedua.

“Kita akan ajukan emergency use authorization ke Badan POM dan ini waktunya paling lambat 20 hari dari jadwal pengajuan,” terangnya.

Adapun, hingga akhir 2020 mendatang, perusahaan tersebut memiliki kapasitas produksi 250 juta dosis per tahun yang dinilai mampu menutupi kebutuhan 70 persen herd immunity.

Selanjutnya, Sinovac juga berkomitmen untuk menyuplai 210 juta dosis ke Bio Farma mulai April hingga Desember 2021. Untuk kolaborasi dalam negeri, Bio Farma akan menerima seed vaccine atau prototipe dari lembaga Eijkman pada awal tahun 2021 dan dikembangkan di Bio Farma dan dimulai dengan upscaling, uji klinis hingga komersialisasi pada tahun 2022.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BUMN Vaksin bio farma
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top