Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Produksi di Teluk Meksiko dan Libya Naik, Harga Minyak Lemas

Dilansir dari Bloomberg pada Selasa (13/10/2020), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman bulan November 2020 terpantau turun US$1,17.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 13 Oktober 2020  |  09:48 WIB
Tangki penyimpanan minyak di California, Amerika Serikat - Bloomberg/David Paul Morris
Tangki penyimpanan minyak di California, Amerika Serikat - Bloomberg/David Paul Morris

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak dunia kembali mencatatkan penurunan seiring dengan kembali berjalannya produksi di Teluk Meksiko dan pembukaan kembali kegiatan operasi di kilang minyak terbesar di Libya.

Dilansir dari Bloomberg pada Selasa (13/10/2020), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman bulan November 2020 terpantau turun US$1,17 di level US$39,43 per barel pada New York Mercantile Exchange hingga pukul 08.18 waktu Singapura.

Selain itu, harga minyak Brent untuk kontrak bulan Desember 2020 juga turun US$1,13 dan berada di kisaran US$41,72 per barel sekaligus menjadi penurunan terbesar dalam seminggu terakhir.

Harga minyak berjangka di New York 2,9 persen, atau penurunan terbesar dalam sepekan terakhir seiring dengan tekanan jual yang tinggi. Selain itu, harga minyak Brent juga berada dibawah rerata pergerakan 100 dan 200 harinya.

Shell Plc, BHP Group dan Chevron Corp melaporkan kembali berjalannya operasional produksi minyak mentah di kilang Teluk Meksiko. Sementara itu, National Oil Corp di Libya telah membuka kembali produksi minyak pada kilangnya yang berada di Sharara.

"Pelaku pasar mulai melakukan aksi profit taking seiring dengan sentimen Badai Delta yang telah berakhir," ujar Michael Lynch, Presiden Strategic Energy & Economic Research.

Selain berkurangnya gangguan produksi di AS dan Libya,batalnya aksi mogok pekerja di Norwegia juga memulihkan permintaan minyak dunia yang sempat tersendat. Selain itu, kilang minyak milik perusahaan Italia, Sarroch yang berada di Sardinia juga akan dioperasikan secara minimal seiring dengan permintaan yang masih rendah.

Di Eropa, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson akan memperketat pembatasan pergerakan setelah lonjakan kasus positif virus corona. Sedangkan, Italia dan Belanda tengah merancang kebijakan baru untuk mencegah penyebaran virus corona.

Adapun, organisasi negara-negara pengekspor minyak atau OPEC, tengah merencanakan untuk menambah produksi minyak dunia pada Januari 2021 mendatang. Keputusan terkait hal tersebut akan dibahas dalam pertemuan pada 30 November hingga 1 Desember mendatang.

"OPEC tengah melihat keseimbangan dan permintaan minyak dunia saat ini. Kemungkinan besar mereka akan mengurangi produksi dibandingkan dengan menambah output," ujar analis Commodity Research Group Andrew Lebow.

Sementara itu, harga minyak diperkirakan akan mulai merangkak naik setelah kilang minyak yang masih tutup akibat Badai Laura akan kembali dibuka. Kilang minyak Phillips 66 dan Cirgo Petroleum Group yang berada di Lake Charles tengah memulai kembali proses operasional.

Sementara itu, Total SE juga akan memulai kegiatan produksi pada kilang minyaknya yang berada di Texas.

Laporan dari JPMorgan Chase & Co menyebutkan, kemenangan total Partai Demokrat pada pemilihan umum November mendatang akan berdampak pada kembali berlakunya perjanjian nuklir dengan Iran. Hal tersebut akan berimbas pada kenaikan produksi minyak harian Iran hingga 500.000 barel per hari pada kuartal III/2021.

"Tambahan pasokan minyak dunia akan diimbangi dengan permintaan. Pada skenario gelombang biru, harga minyak dapat naik hingga 15 persen seiring dengan nilai dolar AS yang lemah dan kemunculan paket stimulus," demikian kutipan laporan tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak harga minyak mentah wti
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top