Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pasar Was-Was, Harga Minyak Anjlok 1 Persen

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November melemah 1,43 persen menjadi US$40,60 per barel.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 12 Oktober 2020  |  06:52 WIB
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden

Bisnis.com, JAKARTA – Nasib harga minyak mentah masih dalam pusaran tanda tanya usai pengumuman banyaknya perusahaan minyak yang mulai beroperasi.

Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (9/10/2020), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November melemah 1,43 persen menjadi US$40,60 per barel.

Sementara itu, harga minyak Brent untuk kontrak pengiriman Desember turun 1,13 persen menjadi US$42,85 per barel.

Perusahaan energi asal Libya, National Oil Corp. pada Minggu (11/10/2020) mengumumkan pencabutan status force majeure dari ladang minyak terbesar negara tersebut yakni Sharara.

Adapun, Sharara adalah ladang minyak di bagian barat Libya yang dapat memompa sekitar 300.000 barel minyak mentah per hari dengan kapasitas penuh. Langkah tersebut dilakukan menyusul gencatan senjata dalam perang saudara yang telah berlangsung lama di Libya.

Hal tersebut sebelumnya telah menyebabkan banyak ladang minyak dan pelabuhan di timur hampir ditutup total sejak Januari.

Untuk diketahui, status force majeure merupakan status hukum yang melindungi pihak yang tidak dapat memenuhi kontrak karena alasan di luar kendalinya. Sharara disebutkan dapat memompa sekitar 300.000 barel minyak mentah per hari dengan kapasitas penuh.

Di sisi lain, pembatalan aksi mogok kerja di Norwegia berpotensi membuka kembali operasional kilang dan produksi di enam ladang minyak Norwegia.

Fasilitas produksi minyak terbesar di Norwegia, Johan Sverdrup yang memproduksi 460.000 barel minyak per hari juga dipastikan terhindar dari penutupan.

Adapun, badai Delta juga menurunkan produksi minyak mentah di Teluk Meksiko. Perusahaan energi di lepas pantai dan tepi pantai Teluk Meksiko sudah menutup fasilitasnya dan mengevakuasi para pekerja. Saat ini, produksi minyak di Teluk Meksiko sekitar 1,7 juta barel per hari sudah ditutup.

Di sisi lain, Biro Keselamatan dan Penegakan Lingkungan Departemen Dalam Negeri mengatakan hampir 92 persen produksi minyak di Teluk AS tetap ditutup pada Sabtu (10/10/2020).

Meskipun demikian, operator kapal dan bisnis lainnya di Pantai Teluk AS telah kembali bekerja pada hari Sabtu setelah wilayah itu dilanda badai kedua dalam enam minggu terakhir.

Bristow Group Inc., yang mengangkut awak kapal lepas pantai ke dan dari anjungan minyak dan kapal pengeboran menyatakan telah mengembalikan 50 atau 60 pekerja ke berbagai instalasi pada sore hari Sabtu (10/9/2020).

Secara terpisah, Royal Dutch Shell Plc. mengatakan pihaknya juga akan mengerahkan kembali pekerja dan kapal pengeboran di seluruh wilayah pengeboran.

Chevron Corp. juga mulai mengirim pekerja kembali ke wilayah lepas pantai dan memulihkan sumur minyak dan gas yang ditutup.

Tim riset Monex Investindo Futures mengatakan harga minyak bergerak naik di awal sesi Eropa karena produsen utama Norwegia mengancam untuk memangkas pasokan negara hingga 25 persen dan harapan pasar terhadap stimulus fiskal AS.

“Harga minyak berpotensi buy di atas level support 40,70 dengan target kenaikan 41.90 dan selanjutnya di 42.20,” tulis analis dalam publikasi riset, Jumat (9/10/2020).

Adapun, bila level support 40,70 mampu ditembus, maka harga minyak berpotensi melemah menguji level support 39,80.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak harga minyak mentah wti
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top