Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Simpang Siur Stimulus AS, Bursa Asia Ditutup Variatif

Indeks Topix melemah 0,49 persen, sedangkan indeks Hang Seng Hong Kong terkoreksi 0,39 persen. Adapun indeks Kospi parkir di zona hijau setelah naik 0,21 persen.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 09 Oktober 2020  |  14:11 WIB
Simpang Siur Stimulus AS, Bursa Asia Ditutup Variatif
Investor mengamati papan perdagangan saham di sebuah kantor perusahaan sekuritas di Shanghai, China. - Qilai Shen / Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA -  Bursa saham Asia bergerak variatif pada sesi perdagangan Jumat (9/10/2020) setelah kabar kemunculan paket stimulus jumbo kembali mencuat.

Dikutip dari Bloomberg, indeks Topix melemah 0,49 persen, sedangkan indeks Hang Seng Hong Kong terkoreksi 0,39 persen. Adapun indeks Kospi parkir di zona hijau setelah naik 0,21 persen.

Sementara itu, indeks Shanghai Composite terpantau menguat 1,62 persen pada perdagangan pertama sejak 30 September 2020. Adapun indeks S&P/ASX 200 Australia ditutup stagnan.

Kontrak berjangka indeks S&P 500 menguat 0,5 persen menyusul berita bahwa Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengatakan kepada Ketua DPR Nancy Pelosi bahwa Presiden Donald Trump menginginkan kesepakatan tentang paket bantuan komprehensif.

Bursa AS sebelumnya ditutup menguat meskipun ada komentar yang bertentangan dari Trump dan Pelosi yang mengacaukan pasar.

Bursa global kembali ke level tertinggi sepanjang masa bulan lalu di tengah meningkatnya ekspektasi investor terhadap kemenangan Joe Biden dalam pilpres dan Partai Demokrat di Kongres dalam pemilu November mendatang akan mendukung pasar saham.

Skenario tersebut tampaknya agak menekan volatilitas bahkan ketika risiko dari perpecahan dalam pemerintahan hingga kebangkitan kembali kasus virus corona mengancam pemulihan ekonomi.

“Ada peningkatan kemungkinan ‘gelombang biru’ yang mungkin bukan menjadi hal yang buruk, karena akan ada lebih banyak kepastian terkait kebijakan, terutma kebijakan fiskal untuk mendorong perekonomian, kata ahli strategi investasi senior Goldman Sachs Group Inc., Abby Joseph Cohen, seperti dikutip Bloomberg.

Meski demikian, prospek kemunculan paket stimulus masih sulit ditebak setelah Trump menarik perwakilannya dari meja perundingan Selasa lalu. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor bahwa kelanjutan paket tersebut baru akan terjadi setelah pemilihan presiden November mendatang.

"Kami cukup skeptis tidak akan ada paket stimulus sebelum pemilihan presiden AS hingga kemungkinan Januari 2021," jelas Libby Cantrill, Head of Public Policy di Pacific Investment Management Co.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top