Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pefindo Revisi Outlook Barito Pacific (BRPT) Jadi Negatif

Revisi pada proyeksi perseroan ini dilakukan untuk mengantisipasi arus kas masuk dari anak perusahaan yang lebih rendah secara berkelanjutan, terutama dari bisnis petrokimia.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 09 Oktober 2020  |  10:18 WIB
Wisma Barito Pacific, kantor pusat PT Barito Pacific Tbk. - barito/pacific.com
Wisma Barito Pacific, kantor pusat PT Barito Pacific Tbk. - barito/pacific.com

Bisnis.com, JAKARTA - Pefindo telah merevisi outlook PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) dari stabil menjadi negatif. 

Di sisi lain, lembaga pemeringkat tersebut menetapkan kembali peringkat 'idA' untuk BRPT dan Obligasi Berkelanjutan I Barito Pacific sebesar maksimum Rp1,5 triliun. 

Revisi pada proyeksi perseroan ini dilakukan untuk mengantisipasi arus kas masuk dari anak perusahaan yang lebih rendah secara berkelanjutan, terutama dari bisnis petrokimia yakni PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) di peringkat idAA-/negatif) karena harga komoditas yang lebih rendah sementara leverage finansial BRPT akan meningkat dalam jangka pendek.

Sebagai informasi, pada bulan Agustus 2020, BRPT memperoleh fasilitas utang sebesar US$252,7 juta dari Bangkok Bank untuk digunakan sebagai bagian dari kontribusi perusahaan dalam struktur finansial kepada PT Indo Raya Tenaga untuk konstruksi dan pengembangan proyek pembangkit listrik ultra-super critical 2x1.000 megawatt. 

Adapun, outlook akan direvisi menjadi stabil jika kinerja peringkat membaik yang tercermin dengan membaiknya profil keuangan bisnis petrokimia secara berkelanjutan dan/atau usaha penurunan utang di level induk perusahaan didukung oleh kemampuan menghasilkan arus kas dari anak-anak perusahan. 

"Peringkat  (idA) tersebut mencerminkan posisi pasar yang kuat dari segmen operasi utama BRPT, pembagian dividen yang baik dari anak-anak usaha inti, dan segmen energi panas bumi yang memberikan perlindungan terhadap sensitivitas siklus industri sektor  petrokimia," tulis analis Niken Indriarsih dan Umar Hareddy dalam keterangannya, Kamis (9/10/2020). 

Dalam pandangan Pefindo, peringkat tersebut dibatasi oleh leverage keuangan yang moderat, akses tidak langsung terhadap arus kas operasional anak perusahaan, dan risiko yang melekat dengan segmen inti operasi perusahaan.

Peringkat tersebut juga bisa berada dalam tekanan jika terdapat penurunan aliran arus kas dari anak-anak perusahaan, yang dapat dipicu oleh pandemi COVID-19 yang terus berlangsung dan menyebabkan pelemahan lebih lanjut di sektor petrokimia, dan/atau bencana alam yang sangat mempengaruhi segmen geothermal. 

"Peringkat tersebut belum memperhitungkan belanja modal tambahan yang didanai dari utang untuk pembangunan naphtha cracker kedua di bawah anak perusahaan BRPT, karena keputusan investasi final belum difinalisasi," tutup analis. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pefindo barito pacific
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top