Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penghimpunan Dana di Pasar Modal Turun Drastis

Minat perusahaan untuk menggalang dana lewat berbagai skema seperti IPO dan penerbitan surat utang turun lebih dari 50 persen dalam tujuh bulan 2020.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 04 Agustus 2020  |  14:52 WIB
Pengunjung melihat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (3/8/2020). Pada penutupan perdagangan awal pekan, IHSG ditutup melemah 2,78 persen atau 143,4 poin ke level 5.006,22. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pengunjung melihat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (3/8/2020). Pada penutupan perdagangan awal pekan, IHSG ditutup melemah 2,78 persen atau 143,4 poin ke level 5.006,22. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Minat penghimpunan dana melalui penawaran umum di pasar modal mengalami penurunan lebih dari 50 persen secara year on year (yoy) pada periode tujuh bulan pertama tahun ini.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan per 28 Juli 2020, penggalangan dana di pasar modal sejak awal tahun mencapai Rp54,13 triliun yang berasal dari 73 penawaran umum. Pencapaian tersebut lebih rendah 50,42 persen yoy dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp109,18 triliun dari 94 penawaran umum.

Perinciannya, total dana yang dihimpun lewat penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) tercatat Rp3,28 triliun dari 28 emiten baru, turun 61,41 persen yoy dibandingkan Rp8,50 triliun dari 29 emiten baru.

Selanjutnya, Penawaran Umum Terbatas (PUT) turun 62,89 persen menjadi Rp9,52 triliun dari 8 penawaran dibandingkan dengan periode Januari—Juli 2019 senilai Rp25,66 triliun dari 12 penawaran.

Bahkan, penerbitan Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) tercatat tidak ada sama sekali. Adapun pada periode yang sama tahun lalu tercatat Rp2,25 triliun dari 3 emiten. Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) EBUS Tahap I tercatat Rp12,79 triliun dari 23 emiten dan PUB EBUS Tahap II senilai Rp28,85 triliun dari 26 emiten.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso berharap penurunan-penurunan yang terjadi belakangan ini bersifat sementara. Kinerja pasar modal Indonesia kian tertekan akibat pandemi Covid-19. IHSG terpantau masih melemah 19,61 persen sejak awal tahun ke level 5.061 pada perdagangan Selasa (4/8/2020) pukul 14.26 WIB.

“Harapan kami ekonomi segera tumbuh. Meskipun sudah ada beberapa calon emiten di pipeline, dengan pertumbuhan yang positif tentu dapat mempercepat realisasi emiten baru di pasar modal,” kata Wimboh melalui konferensi pers virtual, Selasa (3/8/2020).

Sejak Februari, lanjut Wiboh, otoritas telah meluncurkan sejumlah relaksasi aturan di pasar modal yang diharapkan bisa mengurangi volatilitas berlebih. Hal itu pun mulai berdampak terhadap pergerakan IHSG yang mulai bangkit dari level terendahnya pada Maret 2020 di level 3.937.

“Sentimen positif di pasar modal sudah mulai baik, tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia,” tutur Wimboh.

Ke depan, OJK menyampaikan belum berencana mengubah relaksasi aturan tersebut karena kondisi pasar dinilai belum pulih benar. Adapun setiap kebijakan yang akan diambil akan selalu mempertimbangkan perkembangan dari kasus Covid-19 di Indonesia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Obligasi ipo OJK
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top