Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bagaimana Sebenarnya Kinerja Keuangan INDF dan ICBP?

Secara garis besar, baik INDF dan ICBP membukukan kinerja keuangan yang cemerlang sepanjang tahun 2019. 
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 14 Juli 2020  |  14:11 WIB
Indofood - Antara
Indofood - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten konsumer PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) dan anak usahanya PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) secara bersamaan akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang akan diselenggarakan pada Rabu (15/7/2020) besok.

Kendati telah mengonfirmasi akan menunda pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) berkaitan dengan rencana akuisisi Pinehill Company Limited (PCL), namun perseroan akan tetap melanjutkan RUPS dengan agenda rapat berupa penetapan penggunaan laba bersih perseroan untuk tahun buku 2019.

Kedua emiten membukukan kinerja keuangan yang cemerlang sepanjang tahun 2019. INDF berhasil membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 17,81 persen secara tahunan menjadi Rp4,91 triliun pada tahun 2019. Sedangkan ICBP juga mampu menorehkan kenaikan laba bersih sebesar 10,12 persen menjadi Rp5,04 triliun pada tahun lalu. 

INDF, melalui laporan tahunan perseroan bahkan menargetkan pertumbuhan penjualan bersih konsolidasi sebesar mid hingga high single-digit pada tahun 2020 dengan mempertimbangkan harga komoditas seperti CPO dan gandum.

Presiden Direktur dan CEO Indofood Sukses Makmur Anthoni Salim menyatakan perseroan berencana akan mengembangkan jaringan distribusi melalui perluasan dan pendalaman penetrasi serta melakukan investasi dalam peningkatan produktivitas dan efisiensi yang berkelanjutan. Upaya yang akan dijalankan juga meliputi diversifikasi sumber bahan baku serta pengawasan dan pengendalian secara cermat bagi inisiatif yang dilakukan perseroan.

“Kami akan fokus dalam memperkuat daya saing dengan membangun dan mempertahankan brand equity yang kuat serta memastikan inovasi produk yang berkelanjutan,” tulisnya dalam laporan keuangan.

Secara umum, INDF juga menyatakan pihaknya tetap memandang positif perekonomian Indonesia yang dapat mendukung perseroan dalam melanjutkan momentum pertumbuhan Indofood pada tahun 2020.

Dikutip dari laporan keuangan konsolidasian per 31 Maret 2020, di laman keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), baik INDF sebagai induk usaha, dan ICBP sebagai entitas anak sama-sama mencetak pertumbuhan pada periode tersebut. 

Menariknya, ICBP tampak lebih prospektif dibandingkan dengan induk usahanya. Produsen Indomie tersebut berhasil membukukan kenaikan laba bersih 48,26 persen secara tahunan, dengan perolehan senilai Rp1,98 triliun pada tiga bulan pertama tahun ini. 

Memang, pertumbuhan majemuk tahunan (CAGR) ICBP selama empat tahun belakangan berada di level 16 persen, dimana persentase kenaikannya secara year-on-year pada kuartal pertama tahun ini menjadi yang paling tinggi sejak tahun 2017 silam. Ditambah lagi, sejak tahun 2018, perseroan konsisten mencetak pertumbuhan laba double digit.

Di sisi lain, meski tetap mencetak peningkatan, pertumbuhan laba induk perusahaan INDF tak secemerlang anak usahanya. Pada kuartal ini, perseroan hanya berhasil membukukan kenaikan laba 4,03 persen secara tahunan dengan pertumbuhan majemuk tahunan hanya sebesar 5 persen. Torehan labanya pun tidak lebih baik dibandingkan dengan entitas anaknya, yakni hanya sebesar Rp1,4 triliun 

Dari sisi margin laba bersih, ICBP juga jauh lebih unggul dengan besaran 16,51 persen dibandingkan dengan INDF yang hanya sebesar 7,27 persen pada kuartal pertama tahun ini.

Analis RHB Sekuritas Michael Wilson Setjoadi memprediksi pertumbuhan penjualan akibat pembatasan sosial berskala besar dan pelemahan ekonomi kemungkinan besar akan sangat berpengaruh pada kedua emiten ini.

“INDF akan lebih berpengaruh dari fluktuasi harga CPO sedang ICBP akan diuntungkan sewaktu komoditas gandum dan CPO melemah di kuartal kedua,” ungkapnya kepada Bisnis, Senin (14/7/2020)

Sementara itu, hingga akhir kuartal I/2020, porsi penjualan baik INDF dan ICBP dalam negeri masih mendominasi masing-masing 89,39 persen dan 84,99 persen dari total pendapatan. Kendati demikian, pertumbuhannya cenderung melambat.

INDF mencatatkan penurunan tipis penjualan dalam negeri sebesar 0,31 persen secara tahunan, sedang ICBP memang masih membukukan kenaikan penjualan sebesar 6,13 persen secara tahunan. Di sisi lain, penjualan ekspor perlahan menanjak terkhususnya bagi wilayah Arab Saudi.

Per 31 Maret 2020, pertumbuhan penjualan INDF di Arab Saudi melesat 39,8 persen secara tahunan menjadi Rp366 miliar. Pasar Arab Saudi menggenggam sekitar 1,9 persen total penghasilan perseroan selama kurun waktu tersebut.

Tak jauh berbeda, anak usahanya ICBP juga mendapati tren yang sama. Porsi penjualan perseroan di Arab Saudi naik 20,7 persen secara tahunan menjadi Rp316 miliar. Secara garis besar, pasar Arab Saudi mendominasi 2,16 persen dari total omzet perseroan dalam periode tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

indf Kinerja Emiten rupslb icbp
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top