Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Minyak Diperkirakan Mendidih ke Level US$70 per Barel

Harga minyak diprediksi bisa merangkak naik bila ekspektasi pemulihan permintaan benar-benar terjadi. Terlebih, mekanisme penentuan produksi kini lebih terkendali berkat persekutuan OPEC dan produsen lain dalam satu koalisi.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 13 Juli 2020  |  16:43 WIB
Tanker pengangkut minyak. - Bloomberg
Tanker pengangkut minyak. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak diperkirakan dapat menyentuh US$60 sampai US$70 per barel pada kuartal III/2020 bila permintaan terus meningkat. Adapun para produsen tengah gamang untuk menentukan strategi menjaga pasar minyak dari kejatuhan sepeti terjadi pada semester pertama lalu.

Analis Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan harga minyak dapat menyentuh US$60 sampai US$70 per barel bila permintaan terus meningkat. Oleh sebab itu, tidak heran bila negara produsen yang tergabung di OPEC+ mendesak kenaikan produksi.

“Tren permintaan masih akan naik sehingga OPEC+ pasti ingin harga naik. Namun, konsep bisnisnya memang memaksa produsen untuk lebih produktif. Jadi semakin banyak permintaan akan disambut produksi,” katanya kepada Bisnis pada Senin (13/7/2020).

Menurutnya, OPEC+ memiliki kapasitas untuk mengontrol harga seperti halnya sistem kartel. Apalagi ditambah wacana untuk menjadikan aliansi itu mirim Bank Sentral atau The Fed.

Wahyu mengatakan dalam jangka menengah harga minyak akan menguji level US$20 sampai US$50 per barrel. Dia menambahkan saat menyentuh level US$50 investor disarankan untuk menjual saat penguatan.

“Harga mulai stabil dan rebound jelas ditopang oleh OPEC+ dengan menekan supply, harga bisa diatur,” katanya.

Sementara itu, Bloomberg melansir bahwa Menteri Perminyakan Arab Saudi Abdulaziz bin Salman melempar gagasan agar OPEC+ bertindak sebagai bank sentral produsen minyak. Ide itu tercetus dari kekagumannya pada Alan Greenspan, mantan ketua Federal Reserve A.S.

Gagasan itu muncul setelah aliansi berhasil menggandakan harga minyak mentah selama beberapa bulan terakhir melalui pemangkasan produksi yang belum pernah terjadi sebelumnya. OPEC + yang dipimpin oleh Saudi dan Rusia siap untuk mulai melepaskan langkah-langkah stimulus. Ketika permintaan bahan bakar pulih dengan pelonggaran lockdown di berbagai negara para produsen akan sedikit membuka keran.

Namun, Helima Croft Kepala Strategi Komoditas di RBC Capital Markets LLC menilai hal itu memiliki resiko besar. Pasalnya, gelombang kedua pandemi mengancam kemerosotan permintaan dalam konsumsi minyak.

Sementara itu masih terdapat miliaran barel yang menumpuk selama wabah pertama. Jika OPEC + meningkatkan pasokan sama seperti sebelum pandemi maka harga bisa jatuh sekali lagi.

"Ketika mereka melihat harga selama kuartal ini, mereka melihat kenaikan permintaan, saya pikir mereka merasa baik. Saya pikir mereka sadar ada resiko di depan sana," katanya dilansir Bloomberg Senin (13/7/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top