Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Belasan Emiten Berisiko Delisting, Bagaimana Nasib Investor?

Sepanjang Januari-Juli 2020, Bursa Efek Indonesia mengumumkan terdapat 18 perusahaan tercatat yang berpotensi ditendang dari pasar modal.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 13 Juli 2020  |  08:02 WIB
Pwsawat AirAsia. PT AirAsia Indonesia Tbk. (CMPP) menjadi salah satu emiten yang berisiko mengalami delisting - Bloomberg
Pwsawat AirAsia. PT AirAsia Indonesia Tbk. (CMPP) menjadi salah satu emiten yang berisiko mengalami delisting - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Sepanjang Januari-Juli 2020, Bursa Efek Indonesia mengumumkan terdapat 18 perusahaan tercatat yang berpotensi delisting dari pasar modal.

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan maraknya potensi delisting tidak akan mempengaruhi indeks harga saham gabungan (IHSG). Menurutnya deretan calon perusahaan yang bakal ditendang itu telah lama tidak aktif.

“Saham yang terancam delisting sudah lama tidak aktif di pasar modal. Oleh sebab itu pengaruhnya akan sangat kecil,” katanya kepada Bisnis, Minggu (12/7/2020).

Hans mengatakan perusahaan yang menghadapi potensi delisting biasanya telah bermasalah dalam periode tertentu. Misalnya tidak menerbitkan laporan keuangan, tidak membayar iuran pasar modal, menghadapi resiko kebangkrutan hingga operasional bisnis sama sekali tidak berjalan.

Oleh sebab itu, Hans berharap calon investor pasar modal mengetahui bibit, bebet, bobot perusahaan terbuka yang sahamnya akan dibeli. Pasalnya, ketika delisting investor publik akan menghadapi kesulitan yang serius.

Sejauh ini, lanjut, Hans, perseroan yang dipaksa delisting tidak memiliki kewajiban membeli kembali saham publik. Dengan begitu, investor ritel akan kesulitan melakukan jual beli setelah proses delisting bergulir.

“Ini resiko yang besar bagi investor karena jual beli akan melalui broker. Hal ini menjadi sulit karena harganya rendah dan jarang ada yang mau membeli,” katanya.

Meski demikian, hal itu kata Hans tidak akan menjadi tendensi buruk bagi Bursa Efek Indonesia. Pasalnya pihak regulator telah melakukan protokol sebagaimana mestinya, seperti mensuspensi, mendenda emiten, dan sebagainya.

Menurutnya Hans, pekerjaan rumah saat ini adalah mengedukasi investor ritel untuk memahami industri. Dengan begitu, investor memahami resiko ketika membeli saham di pasar modal.

“Saat ini itu adalah pekerjaa rumah kita menjelang ulang tahun ke-28 Pasar Modal. Bahwa ketika membeli saham ada resiko turun hingga delisting. Investor harus mencermati reputasi manajemen, pemilik dan keberlanjutan bisnis emiten,” katanya.

Sementara itu, Direktur Penilai Perusahaan Bursa Efek Indonesia I Gede Nyoman Yetna mengatakan pihaknya telah mengumumkan potensi delisting kepada publik dan meminta keterbukaan informasi secara berkala.

Terutama kepada perusahaan tercatat yang mengalami suspensi untuk menginformasikan rencana perseroan untuk memperbaiki kondisinya dalam mempertahankan keberlanjutan dalam rangka pemenuhan-pemenuhan kewajiban.

“Bursa senantiasa mengupayakan pembinaan termasuk berdiskusi dengan manajemen maupun pemegang saham pengendali terkait rencana strategis yang akan dilakukan dalam mempertahankan keberlanjutan organisasi,” katanya.

Selain itu, BEI juga melakukan pembinaan dan komunikasi tersebut senantiasa dilakukan sejak awal permasalahan going concern yang dihadapi oleh emiten. Saat ini, BEI tengah progress yang telah dilakukan oleh management Perusahaan Tercatat termasuk PT Cakra Mineral Tbk (CKRA), PT Akbar Indo Makmur Stimec Tbk (AIMS), PT Sugih Energy Tbk (SUGI).

Sepanjang Januari-Juli 2020, Bursa Efek Indonesia mengumumkan terdapat 18 perusahaan tercatat yang berpotensi ditendang dari pasar modal. Salah satunya adalah PT AirAsia Indonesia Tbk. (CMPP) yang memiliki kapitalisasi pasar Rp1,97 triliun.

Saat ini dari total saham yang beredar sebanyak 10,68 miliar, publik memiliki sekitar 1,59 persen atau 169,94 juta unit. Sementara itu, pihak bursa telah menggembok perdagangan saham CMPP sejak 5 Agustus 2019. Dengan begitu pada 5 Agustus mendatang, tepat setahun perusahaan maskapai itu tidak bisa diperdagangkan.

Dari sisi manajemen, CMPP menyatakan covid-19, lockdown dan PSBB sangat berdampak signifikan terhadap keuangan perusahaan terutama arus kas. Strategi perseroan pada kuartal II/2020 adalah bertahan agar operasional perseroan tetap bisa berjalan pada kondisi pandemi.

Adapun pada kuartal III/2020, perseroan berharap dapat memulihkan kinerja keuangan AirAsia pasca kondisi covid-19. Sekretaris Perusahaan AirAsia Indonesia Indah Permatasari menyatakan perseroan telah berencana menyiapkan strategi agresif pada awal tahun dengan menambah 3 pesawat baru.

Akan tetapi covid-19 memberikan dampak yang signifikan terhadap penurunan jumlah penumpang. Hal ini mempengaruhi strategi yang telah ditetapkan sebelumnya.

“Kami terpaksa harus mengambil langkah menutup rute penerbangan internasional dan domestik untuk sementara. Kebijakan tersebut tentu saja akan berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja operasional dan keuangan Perseroan di semester I tahun 2020 ini,” katanya dalam keterangan resmi dikutip Minggu (12/7/2020).

Sementara itu, PT Cakra Mineral Tbk. (CKRA) juga tengah menghadapi potensi dikeluarkan oleh BEI. Pasalnya perusahaan tambang biji besi itu telah mencapai batas waktu suspensi selama 24 bulan pada 4 Juni lalu.

Direktur Cakra Mineral Dexter Sjarif Putra mengatakan perseroan masih melakukan konsolidasi internal terkait hal tersebut. “Kami masih diskusikan secara internal, nanti setelah ada pemanggilan dari bursa akan kami sampaikan,” katanya kepada Bisnis baru-baru ini.

Sebelumnya CKRA pernah meminta pelonggaran waktu kepada BEI karena perseroan tengah melakukan akuisisi untuk memperbaiki kinerja. Akan tetapi, Dexter mengungkapkan bahwa transaksi itu gagal karena kedua belah pihak tidak menemui kata sepakat.

Pembatalan itu berdampak signifikan bagi kelangsungan usaha perseroan. “Hingga saat ini kondisi perseroan belum berjalan normal sehingga mempengaruhi kondisi keuangan dan kelangsungan usaha,” imbuhnya.

Di sisi lain, PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk. (AISA) tengah bernafas lega karena perseroan lolos dari ancaman delisting. Produsen makanan ringan Taro itu hanya perlu melakukan public expose terkait prospek usaha.

“Saat ini kami sedang menyusun materi dan mencari tempat pelaksanaan. Semoga dalam waktu dekat ini kami dapat melaksanakannya,” kata Sekretaris Perusahaan Tiga Pilar Sejahtera Food Michael Hadylala kepada Bisnis.

Berikut ini adalah daftar perusahaan tercatat yang berpotensi delisting dari Bursa Efek Indonesia:

1. PT Magna Investama Mandiri Tbk. MGNA
2. PT Cakra Mineral Tbk. (CKRA)
3. PT Nipress Tbk. (NIPS)
4. PT Armidian Karyatama Tbk. (ARMY)
5. PT Sugih Energy Tbk. (SUGI)
6. PT First Indo American Leasing Tbk. (FINN)
7. PT Polaris Investama Tbk. (PLAS)
8. PT Bakrie Telecom Tbk. (BTEL)
9. PT Akbar Indo Makmur Stimec Tbk. (AIMS)
10. PT Eureka Prima Jakarta Tbk. (LCGP)
11. PT Triwira Insanlestari Tbk. (TRIL)
12. PT Jakarta Kyoei Steel Works Tbk. (JKSW)
13. PT Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk. (KBRI)
14. PT Panasia Indo Resources Tbk. (HDTX)
15. PT Trikomsel Oke Tbk. (TRIO)
16. PT AirAsia Indonesia Tbk. (CMPP)
17. PT Golden Plantation Tbk. (GOLL)
18. PT Mitra Investindo Tbk. (MITI)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa efek indonesia delisting aksi emiten
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top