Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tersengat Selisih Kurs, Spindo (ISSP) Catatkan Rugi Bersih Rp75,2 Miliar

Perolehan rugi bersih pada kuartal I/2020 berbanding terbalik dari kondisi pada periode yang sama tahun lalu saat ISSP membukukan laba bersih Rp21,66 miliar.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 24 Juni 2020  |  18:54 WIB
Ilustrasi - spindo.com
Ilustrasi - spindo.com

Bisnis.com, JAKARTA – PT Steel Pipe Industry Indonesia Tbk. atau Spindo mencatatkan rugi bersih Rp75,2 miliar pada kuartal I/2020 akibat sengatan rugi selisih kurs yang terjadi sepanjang periode tersebut.

Perolehan rugi bersih pada kuartal I/2020 berbanding terbalik dari kondisi pada periode yang sama tahun lalu. Pada kuartal I/2019, emiten berkode saham ISSP ini membukukan laba bersih Rp21,66 miliar.

Sekretaris Perusahaan dan Investor Relation Spindo Johanes Edward menjelaskan bahwa rugi bersih itu terjadi akibat rugi selisih kurs senilai Rp132 miliar akibat melonjaknya nilai tukar rupiah pada periode tersebut.

“Faktor utama kerugian selisih kurs adalah bergeraknya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS menjadi Rp16.367, yang merupakan kenaikan Rp2.133 dibandingkan dengan kurs pada penutupan tahun lalu, yakni Rp13.901 per dolar AS,” katanya melalui siaran pers, Rabu (24/6/2020).

Johanes menjelaskan dengan adanya kewajiban Perseroan dalam mata uang Dolar Amerika akibat penggunaan Letter of Credit (LC), maka perseroan harus menampilkan kerugian selisih nilai tersebut sesuai dengan standar Akuntansi.

Selain itu, dia mengatakan bahwa dengan adanya perubahan nilai tukar tersebut, perseroan juga melakukan penyesuaian harga. Hal itu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan pergerakan harga bahan baku, baik impor maupun domestik.

Meski mencatatkan rugi bersih, lanjutnya. dari sisi operasional perseroan masih menghasilkan laba. Perolehan laba kotor perseroan pada kuartal I/2020 tercatat sebesar Rp136 miliar, hanya terpaut sekitar Rp1 miliar dari laba kotor pada periode yang sama tahun lalu.

Perolehan laba kotor tersebut ditopang oleh efisiensi pada beban pokok, yang berhasil diturunkan dari Rp1,09 triliun menjadi Rp915,41 miliar. Penurunan itu dapat mengimbangi pendapatan yang juga menurun sekitar Rp170 miliar menjadi Rp1,05 triliun.

“Atas perolehan ini, kami mencatatkan margin laba kotor sekitar 13 persen, naik 2 persen dari margin laba kotor pada periode yang sama tahun lalu senilai sekitar 11 persen,” ujarnya.

Sepanjang kuartal I/2020, sektor konstruksi, infrastruktur, dan utilitas masih mendominasi penjualan Spindo, atau mencapai 57 persen dari total penjualan. Sementara itu, penjualan kepada sektor otomotif mencapai 22 persen.

Peningkatan serapan pasar terjadi pada sektor furnitur yang menyumbang sekitar 21 persen pendapatan perseroan pada kuartal I/2020. Adapun, kontributor terendah adalah penjualan kepada sektor minyak dan gas yang mencapai kurang dari 1 persen.

Johanes menambahkan volatilitas nilai tukar yang menjadi penekan laba bersih perseroan diperkirakan akan lebih stabil pada paruh kedua tahun ini. Dia meyakini hal tersebut akan membuat tekanan nilai tukar terhadap periode selanjutnya tidak akan seberat pada kuartal I/2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

spindo Kinerja Emiten industri besi baja
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top