Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penguatan Aset Emerging Market Tak Terbendung, Kebijakan The Fed Dinanti

Banjir sentimen positif memperkuat momentum kenaikan aset keuangan di pasar emerging market. Kendati demikian, investor masih menanti langkah kebijakan Fed yang akan diumumkan dalam waktu dekat.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 08 Juni 2020  |  09:52 WIB
bursa asia
bursa asia

Bisnis.com, JAKARTA – Dukungan momentum positif mengalir deras untuk aset-aset berisiko sehingga banyak pelaku pasar kesulitan melihat sentimen apa yang bisa menggoyang momentum reli aset keuangan di emerging market, setidaknya dalam beberapa hari mendatang.

Laporan pekerjaan di Amerika Serikat untuk bulan Mei yang lebih kuat dari perkiraan dan perjanjian OPEC+ untuk perpanjangan pemangkasan output selama 1 bulan lebih lanjut dapat menambah optimisme tentang prospek pemulihan ekonomi global, sehingga menopang aset-aset berisiko.

Indeks JPMorgan Chase & Co. yang mengukur volatilitas tersirat untuk mata uang emerging market mencatat penurunan mingguan terbesar sejak 2011. Bursa saham membukukan pekan terbaiknya sejak 2011, sementara indeks obligasi domestik mencapai titik tertinggi sejak awal Maret.

“Kendati masih ada ketidakpastian yang signifikan atas dampak Covid-19 pada laba perusahaan, [sentimen] investor terdorong oleh reopening ekonomi yang cenderung mengarah pada rebound profitabilitas tahun ini,” ujar Managing Partner Allied Mitra Investasi PJSC, Dubai, Iyad Abu Hweij.

“Mengingat adanya ketidakpastian, mungkin waktu yang tepat bagi investor untuk menyeimbangkan kembali portofolio mereka guna mempertahankan baruan yang sesuai dengan realita-realita baru,” lanjutnya, dikutip dari Bloomberg, Senin (8/6/2020).

Sementara bank sentral Federal Reserve AS diproyeksi akan mempertahankan suku bunga di kisaran nol persen dalam pertemuan kebijakan pada Rabu (10/6/2020), investor akan mencermati petunjuk tentang stimulus lebih lanjut dalam pernyataan yang disampaikan oleh Gubernur The Fed Jerome Powell.

Di sisi lain, indikator-indikator teknis menunjukkan prospek untuk aset-aset pasar negara berkembang terlihat menjanjikan karena dolar AS bergerak terseok-seok.

Pada Jumat (5/6/2020), indeks MSCI untuk mata uang emerging market menembus di atas rata-rata pergerakan 100 pekan, menandakan kenaikan lebih lanjut.

Namun, pemulihannya masih rapuh. Beberapa jam sebelum pertemuan kebijakan The Fed mendatang, China mungkin akan merilis laporan yang menunjukkan bahwa deflasi pabrik semakin dalam dan inflasi konsumen mereda lebih lanjut pada Mei.

Data yang dirilis selama akhir pekan mensinyalkan bahwa ekspor kemungkinan akan tetap lamban karena risiko eskalasi friksi Negeri Tirai Bambu dengan AS mengancam prospek perdagangan luar negerinya.

Sebagian investor juga menantikan laporan valuta asing semi-tahunan Departemen Keuangan AS kepada Kongres AS. Ada kemungkinan AS akan kembali melabeli China sebagai manipulator mata uang mengingat adanya friksi itu, menurut ING Groep NV dalam sebuah laporan pada 3 Juni.

Selain agenda utama di atas, berikut beberapa agenda rilis data ekonomi yang tengah diwaspadai di sejumlah negara di Asia pekan ini:

- Korea Selatan dijadwalkan merilis data tingkat pengangguran pada Rabu (10/6/2020) ketika Negeri Ginseng merencanakan anggaran tambahan ketiga untuk menopang perekonomian yang tengah merosot. Nilai tukar won menjadi salah satu mata uang terlemah di Asia sepanjang tahun ini.

- Pada Jumat (12/6/2020), India diperkirakan akan mengumumkan bahwa inflasi konsumen melanjutkan tren penurunannya pada Mei, sehingga akan memberi bank sentral Reserve Bank of India (RBI) ruang untuk melonggarkan kebijakan. Bloomberg Intelligence memperkirakan RBI akan menurunkan repo rate sebesar 50 basis poin pada Agustus.

- India juga akan mengumumkan produksi industri untuk April pada Jumat (12/6/2020). Indeks data ini terlihat turun 50 persen secara tahunan akibat dampak lockdown terhadap aktivitas perekonomiannya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kebijakan The Fed emerging market

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top