Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Analis: Emiten Telekomunikasi Perlu Waspada Pada Semester II/2020

Tantangan bagi industri telekomunikasi justru akan mulai muncul di paruh kedua tahun ini, sehubungan dengan turunnya daya beli masyarakat.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 08 Juni 2020  |  04:31 WIB
Emiten telekomunikasi perlu waspada pada semester II - 2020
Emiten telekomunikasi perlu waspada pada semester II - 2020

Bisnis.com, JAKARTA—Kalangan analis menilai sektor telekomunikasi masih akan cuan pada kuartal II/2020 ini. Di lain pihak, mereka menyebut para emiten perlu waspada akan potensi perlambatan pada kuartal-kuartal setelahnya.

Analis Kresna Sekuritas Etta Rusdiana Putra mengatakan pihaknya optimistis pendapatan sektor telekomunikasi masih dapat bertumbuh ditopang oleh konsumsi data meski sebagian masyarakat tak lagi beraktivitas di rumah.

Menurut Etta, semakin maraknya aplikasi berbasis video seperti TikTok, YouTube,Netflix, dan aplikasi Video Conference masih menjadi penopang utama konsumsi data. Sebaliknya, aplikasi kantor/dokumen justru tidak berkontribusi secara signifikan terhadap pertumbuhan data.

“Saya rasa sebagian orang masih akan melakukan pekerjaan secara remote karena mereka cenderung melakukan pembatasan ruangan di normal baru, sehingga kebutuhan untuk Video Conference masih akan cukup tinggi,” katanya saat dihubungi Bisnis, baru-baru ini.

Akan tetapi, tambah Etta, tantangan bagi industri telekomunikasi justru akan mulai muncul di paruh kedua tahun ini, sehubungan dengan turunnya daya beli masyarakat, terutama yang bekerja di sektor informal. “Jika daya beli menurun, maka terbuka peluang terjadi perang harga untuk mempertahankan pangsa pasar,” imbuhnya.

Senada, analis Reliance Sekuritas Anissa Septiwijaya mengatakan persaingan antar emiten telekomunikasi akan semakin tinggi di Q3/2020 dan Q4/2020, salah satunya demi mempertahankan pangsa pasar mereka saat ini. Dia mengatakan sepanjang semester pertama tahun 2020—yang mana adanya periode belajar dan bekerja dari rumah—para penyedia layanan telekomunikasi berlomba memberikan paket-paket menarik untuk konsumen.

“Itu akan berlanjut. Itu sih yang jadi concern bagi emiten telekomunikasi,” katanya kepada Bisnis.

Selain itu, beban operator juga akan menjadi pengganjal kinerja emiten telekomunikasi pada kuartal mendatang, terutama yang memiliki tingkat utang cukup tinggi. Menurutnya jumlah utang yang besar berpotensi menekan kinerja bottom line perseroan.

“ISAT punya utang yang cukup besar sehingga kinerjanya berpotensi tertekan, kalau untuk EXCL dan TLKM dengan jumlah utang yang tak terlalu besar seharusnya masih bisa tumbuh, khususnya TLKM,” tutur dia.

Meskipun demikian, secara keseluruhan Anissa memproyeksikan pertumbuhan trafik data para operator telekomunikasi di paruh kedua tahun ini tidak akan sebesar lonjakan yang terjadi di paruh pertama 2020.

“Tapi kalau bicara tumbuh, trafiknya masih akan tumbuh hanya tidak sebesar di awal pandemi yang mana orang melakukan WFH. Lagipula outlook untuk emiten telekomunikasi juga masih sangat baik tahun ini,” tuturnya.

Untuk EXCL, Anissa merekomendasikan “beli” dengan target harga di level 3.800. Kemudian ISAT juga mendapat rekomendasi “beli” dengan target harga 3.200, sedangkan target harga TLKM masih dalam penilaian tapi tetap direkomendasikan “beli”.

“Tiga-tiganya baik tapi top picks untuk saat ini TLKM dan EXCL,” tukas Anissa.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

telekomunikasi kresna securities Kinerja Emiten
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top