Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Potensi Lepas dari Level US$30, Harga Minyak Masih Rentan Mendingin

Harga minyak berhasil kembali mendidih dalam beberapa perdagangan terakhir, membuka jalan komoditas emas hitam itu untuk reli dan lepas dari level US$30 per barel. Namun, penguatan itu diyakini masih rentan untuk terkoreksi.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 03 Juni 2020  |  21:57 WIB
Ilustrasi. Kapal tanker pengangkut minyak. - Bloomberg
Ilustrasi. Kapal tanker pengangkut minyak. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak berhasil kembali mendidih dalam beberapa perdagangan terakhir, membuka jalan komoditas emas hitam itu untuk reli dan lepas dari level US$30 per barel. Namun, penguatan itu diyakini masih rentan untuk terkoreksi.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (3/6/2020) hingga pukul 16.32 WIB harga minyak mentah jenis WTI untuk kontrak Juli 2020 di bursa Nymex masih berada di zona hijau, melanjutkan penguatannya selama 3 hari berturut-turut. Minyak WTI naik 1,98 persen ke level US$37,54 per barel.

Sementara itu, harga minyak Brent untuk kontrak Agustus 2020 di bursa ICE bergerak menguat 1,42 persen ke level US$40,13 per barel. Adapun, minyak Brent berhasil kembali ke kisaran level US$40 per barel, untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir.

Sepanjang tahun berjalan 2020, harga minyak telah terkoreksi 39,33 persen.

Analis Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan bahwa rebound harga minyak dalam beberapa perdagangan terakhir termasuk hal yang wajar, apalagi setelah minyak menyentuh level terendah sepanjang sejarah, yaitu menembus level negatif pada medio Maret lalu.

Saat ini, fundamental pasar minyak mulai membaik didukung dengan optimisme pasar terhadap pembukaan kembali aktivitas ekonomi beberapa negara setelah menerapkan kebijakan lockdown untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

 Selain itu, dorongan besar dari pemangkasan produksi dari OPEC dan sekutunya dalam dua bulan terakhir serta harapan adanya keberlanjutan dari aksi itu hingga akhir tahun ini juga telah membukakan jalan bagi harga minyak untuk reli.

Hanya saja, dia menilai penguatan yang terjadi pada minyak saat ini terancam berumur pendek dan reli yang diharapkan pasar untuk mendorong harga keluar dari level US$30 per barel dapat berumur pendek.

Rebound harga masih labil atau rentan, karena masih ada ketidakpastian ekonomi yang cukup tinggi dari dampak Covid-19. Belum lagi, ancaman perang dagang AS dan China yang kembali terjadi,” ujar Wahyu saat dihubungi Bisnis, Rabu (3/6/2020).

Menurut Wahyu, harga minyak di kisaran US$40 hingga US$50 per barel sudah cukup rentan anjlok dan mengundang rejection dari pasar sehingga level wajar konsolidasi harga minyak saat ini di kisaran US$30-US$40 per barel.

Kisaran tersebut pun diyakini akan terjadi setidaknya hingga kuartal III/2020 sembari pasar mencermati bagaimana dampak Covid-19 dalam periode tersebut.

Jika pada kuartal ketiga tahun ini, ekonomi menunjukkan pemulihan, harga minyak memiliki potensi yang sangat besar untuk menguji level US$60 hingga US$70 per barel.

Di sisi lain, peningkatan harga dalam beberapa perdagangan terakhir turut menimbulkan kekhawatiran pasar bahwa AS akan kembali memacu produksi minyak serpihnya dan membanjiri pasokan di saat permintaan masih dalam tekanan.

Bila hal itu terjadi, Rusia bisa mangkir dari perjanjian bersama OPEC dan ikut memacu produksi.

Adapun, ancaman tersebut muncul pekan ini, ketika perusahaan migas AS, Parsley Energy Inc. mengatakan akan mengaktifkan kembali sumur minyak setelah menutupnya beberapa minggu. Sentimen ini mengindikasikan produsen minyak serpih tengah bersiap memacu operasi.

“Jika semua orang memutuskan menghidupkan kembali produksi dan membiarkan pasokan ke pasar, maka ada 1,5 juta hingga 2 juta barel per hari tambahan minyak yang perlu diserap pasar,” papar Stewart Glickman, analis energi di CFRA Research, seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (3/6/2020).

Padahal, American Petroleum Institute (API) melaporkan bahwa stok di pusat penyimpanan minyak Cushing, Oklahoma turun 2,2 juta barel minggu lalu.

Hal itu pun akan menandai penurunan mingguan keempat beruntun jika dikonfirmasi oleh data pemerintah AS, EIA, yang akan dirilis Rabu (3/6/2020) pukul 21.30 WIB.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak minyak opec
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top