Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

OPEC+ Akan Lanjutkan Pemangkasan Produksi Minyak

Kondisi pasar minyak dunia yang cenderung netral membuat The Organization of Petroleum Exporting Countries dan beberapa negara sekutu yang tergabung dalam OPEC+ mempertimbangkan untuk memperpanjang pemangkasan produksi minyak mentah secara jangka pendek.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 01 Juni 2020  |  16:35 WIB
Tempat penyimpanan minyak di Pelabuhan Richmond in Richmond, California -  Bloomberg / David Paul Morris
Tempat penyimpanan minyak di Pelabuhan Richmond in Richmond, California - Bloomberg / David Paul Morris

Bisnis.com, JAKARTA – Kondisi pasar minyak dunia yang cenderung netral membuat The Organization of Petroleum Exporting Countries dan beberapa negara sekutu yang tergabung dalam OPEC+ mempertimbangkan untuk memperpanjang pemangkasan produksi minyak mentah secara jangka pendek.

Berdasarkan data dari Bloomberg pada Senin (1/6/2020), harga minyak dunia terpantau stabil pada kisaran US$35 per barel. Hal ini membuat OPEC+ diperkirakan akan melanjutkan kebijakan pengurangan produksi selaa satu hingga tiga bulan kedepan. Hal ini akan dibahas dalam pertemuan yang akan dimajukan waktunya pada Kamis mendatang.

Hingga saat ini, langkah pengurangan produksi dinilai sangat efketif. Hal tersebut terbukti dari reli harga minyak dunia yang mencetak rekor, nyaris menyentuh 90 persen pada bulan lalu. Pengurangan produksi ini dilakukan guna mengimbangi penurunan permintaan akibat wabah virus corona.

Founder Vanda Insights Vandana Hari mengatakan, rencana OPEC+ untuk mempercepat pertemuan dan menyetujui perpanjangan kebijakan pengurangan produksi akan menjadi katalis positif bagi reli harga minyak dunia ke depannya.

“Pertemuan yang dipercepat akan memberikan waktu lebih bagi para anggota OPEC+ untuk mengubah batas produksinya. Ummnya, mereka memutuskan rencana pengiriman minyak untuk bulan Juli pada minggu pertama bulan Juni,” jelasnya.

Berdasarkan estimasi dari Kpler, OPEC+ yang terdiri dari 13 negara anggota dan 10 eksportir minyak telah mencapai kata sepakat pada 92 persen negara anggotanya.

Kendati harga minyak mentah mengalami kenaikan, Amerika Serikat sebagai produsen minyak terbesar dunia masih menunjukkan tanda-tanda merespon permintaan minyak. Menurut data dari Baker Hughes, jumlah pengeboran minyak di Negeri Paman Sam anjlok selama 11 pekan terakhir, terendah sejak 2009.

Sementara itu, pasar minyak ETF AS akan memulai kontrak berjangkanya pada Senin. Rencananya, minyak kontrak bulan Juli akan dijual dan kemudian AS akan membeli lebih banyak minyak kontrak berjangka bulan November dan Januari selama 10 sesi perdagangan mendatang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak opec harga minyak dunia
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top