Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mengawali Juni, Rupiah Berpotensi Lanjutkan Penguatan

Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (29/5/2020), rupiah parkir di level Rp14.610 per dolar AS, terapresiasi 0,71 persen atau 105 poin. Kinerja rupiah itu pun menjadi yang terbaik di Asia Pasifik, mengalahkan yen yang hanya menguat 0,46 persen, dolar Australia yang naik 0,44 persen, dan dolar Singapura yang naik 0,42 persen.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 02 Juni 2020  |  07:50 WIB
Karyawan menunjukan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta, Senin (18/5/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menunjukan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta, Senin (18/5/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Mengawali perdagangan Juni, nilai tukar rupiah berpotensi melanjutkan penguatannya meskipun di tengah banyaknya gejolak di pasar global.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa kemungkinan pergerakan rupiah masih akan bergejolak, tetapi cenderung menguat.

“Walaupun berpotensi dibuka melemah tetapi ada kemungkinan rupiah dapat ditutup menguat di kisaran Rp14.520-Rp14.480 per dolar AS,” tulis Ibrahim seperti dikutip dari keterangan resminya, Selasa (2/6/2020).

Adapun, pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (29/5/2020), rupiah parkir di level Rp14.610 per dolar AS, terapresiasi 0,71 persen atau 105 poin. Kinerja rupiah itu pun menjadi yang terbaik di Asia Pasifik, mengalahkan yen yang hanya menguat 0,46 persen, dolar Australia yang naik 0,44 persen, dan dolar Singapura yang naik 0,42 persen.

Ibrahim menjelaskan bahwa nilai tukar rupiah masih digerakkan oleh sentimen eskalasi ketegangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan China.

Hal itu terjadi seiring dengan Presiden AS Donald Trump yang terus menyerang Negeri Panda itu dengan meminta pertanggungjawaban terkait Covid-19 yang menjadi pandemi global dan menuntut kompensasi atas kerusakan ekonomi AS.

Selain itu, hubungan kedua negara kini semakin memburuk setelah AS kembali ikut campur urusan Hong Kong yang merupakan wilayah administratif China.

Di sisi lain, Bank Indonesia dalam paparan Perkembangan Ekonomi Terkini pada Kamis (28/5/2020) mengatakan sangat optimis nilai tukar rupiah saat ini masih undervalue, dan ke depannya akan kembali menguat ke nilai fundamentalnya.

Yaitu, berpotensi kembali ke level sebelum pandemi penyakit virus corona (Covid-19) terjadi di kisaran Rp13.600-Rp14.000 per dolar AS.

Melihat sisi fundamental, Ibrahim memproyeksikan inflasi akan rendah, current account deficit (CAD) menurun, dan aliran modal asing yang masuk ke SBN (Surat Berharga Negara) akan terus meningkat.

“Dengan demikian, dapat memperkuat dan memperkokoh mata uang Garuda sehingga BI tidak perlu lagi menurunkan suku bunga acuan dalam pertemuan Juni mendatang,” papar Ibrahim.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah dolar as Rupiah
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top