Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Upaya Emiten Jaga Marjin Laba Kian Menantang Pada Kuartal II/2020

Meski sebagian besar memiliki NPM yang tidak setinggi kuartal I/2020, beberapa perusahaan mampu mengerek posisi margin laba bersihnya dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 11 Mei 2020  |  10:30 WIB
Gudang distribusi dan logistik Kalbe Farma yang dikelola anak usaha PT Enseval Putera Megatrading Tbk (EPMT). Jaringan distribusi Enseval menjangkau 74 cabang di 54 kota di Indonesia. - kalbe.co.id
Gudang distribusi dan logistik Kalbe Farma yang dikelola anak usaha PT Enseval Putera Megatrading Tbk (EPMT). Jaringan distribusi Enseval menjangkau 74 cabang di 54 kota di Indonesia. - kalbe.co.id

Bisnis.com, JAKARTA - Kondisi perekonomian yang kian melambat pada kuartal II/2020 diprediksi akan menekan margin laba bersih emiten. Sejumlah sektor diyakini masih mampu mempertahankan tingkat net profit margin karena bisnis yang moncer meski pandemi COVID-19 mengadang.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis.com, sejumlah emiten masih mampu mempertahankan tingkat margin laba bersih atau net profit margin (NPM) dua digit pada kuartal I/2020.

Meski sebagian besar memiliki NPM yang tidak setinggi kuartal I/2020, beberapa perusahaan mampu mengerek posisi margin laba bersihnya dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur CSA Institute Aria Santoso menjelaskan bahwa Indonesia belum memasuk periode PSBB pada kuartal I/2020. Selain itu, sebagian sektor masih beroperasi seperti biasa pada Januari 2020—Maret 2020.

Jelang akhir Maret 2020, lanjut dia, situasi baru mulai berbeda. Oleh karena itu, perlambatan menurutnya akan mulai tercatat pada kuartal II/2020.

“Dengan pendapatan yg menurun pada kuartal II/2020, maka NPM diperkirakan juga akan menurun karena beban operasional yang masih sama,” jelasnya kepada Bisnis.com, akhir pekan lalu.

Kendati demikian, Aria menyebut emiten di sektor konsumsi primer seperti makanan dan minuman masih serta yang terkait dengan farmasi dan alat kesehatan berpeluang menjaga tingkat marjin laba bersih pada kuartal II/2020. Pasalnya, secara sentimen jangka pendek, masih menjadi pilihan utama bagi publik dalam mendahulukan kebutuhan pokok dan menjaga kesehatan.

Sementara itu, Vice President Research Artha Sekuritas Frederik Rasali juga menyampaikan hal senada. Menurutnya, dampak penurunan ekonomi global karena COVID-19 belum terasa secara penuh pada kuartal I/2020.

Emiten-emiten yang tidak memiliki eksposur tinggi kepada pasar luar negeri menurutnya tidak langsung terdampak pada kuartal I/2020. Sebaliknya, emiten yang memiliki rekanan di China atau Eropa makan akan lebih terlihat penurunannya pada Januari 2020—Maret 2020.

Untuk kuartal II/2020, Frederik menyebut tantangan menjadi berat karena pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tidak hanya di Indonesia tetapi beberapa negara lainnya. Akibatnya, kegiatan ekonomi secara global menjadi lesu.

Dia mengatakan NPM emiten bisa tergencet apabila beberapa skenario terjadi. Pertama, penjualan melambat tajam sehingga gross profit jatuh dibawah skala ekonomis yang mengakibatkan kontraksi di level operating margin sehingga juga menurun.

“Kasus seperti ini banyak terjadi di bisnis transportasi dan akomodasi,” jelasnya.

Kedua, terjadi peningkatan cost of goods sold (COGS) karena sulitnya mendapat bahan baku baik dari dalam maupun luar negeri. Akibatnya, gross profit margin semakin tertekan.

Ketiga, meningkatknya utang untuk keberlangsungn hidup perusahaan. Dengan demikian, biaya bunga meningkat dan menekan NPM.

Frederik memprediksi sektor telekomunikasi masih dapat mempertahankan NPM. Hal itu sejalan dengan kebutuhan konsumsi data terus meningkat selama masa pandemi.

“Sedangkan COGS [sektor telekomunikasi] seharusnya tidak mengalami peningkatan yang signifikan karena tidak bergantung pada sumber daya alam tertentu,” imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

laba bersih Kinerja Emiten
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top