Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kendati Kinerja Moncer, Saham Vale Indonesia (INCO) Terpukul

Pada penutupan perdagangan Selasa (28/4/2020), saham INCO terkoreksi 1,67 persen atau 40 poin menjadi Rp2.350. Namun demikian, harga berhasil bangkit dari level terendah Rp1.440 pada 19 Maret 2020.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 29 April 2020  |  07:50 WIB
Articulated dump truck mengangkut material pada pengerukan lapisan atas di pertambangan nikel PT. Vale Indonesia di Soroako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Kamis (28/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki
Articulated dump truck mengangkut material pada pengerukan lapisan atas di pertambangan nikel PT. Vale Indonesia di Soroako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Kamis (28/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki

Bisnis.com, JAKARTA – Saham emiten pertambangan PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) terkoreksi kendati berhasil mencetak laba bersih sebesar US$29 juta pada kuartal I/2020.

Pada penutupan perdagangan Selasa (28/4/2020), saham INCO terkoreksi 1,67 persen atau 40 poin menjadi Rp2.350. Namun demikian, harga berhasil bangkit dari level terendah Rp1.440 pada 19 Maret 2020.

Kapitalisasi pasarnya mencapai Rp23,35 triliun dengan price to earning ratio (PER) 26,6 kali.

Sementara itu, Vale Indonesia berhasil mencetak laba bersih sebesar US$29 juta pada kuartal I/2020.

Emiten berkode saham INCO itu dapat membalikkan posisi rugi bersih pada periode yang sama tahun lalu US$20,2 juta. Sementara itu pendapatan perseroan tercatat sebesar US$174,7 juta naik 38,21 persen dari posisi kuartal I/2019 US$126,4 juta.

Pada triwulan pertama 2020, perseroan memproduksi nikel sebanyak 17.614 metrik ton dan menjual 16.713 metrik ton. Adapun harga realisasi rata-ratanya mencapai US$10.428 per ton.

Sementara itu pada kuartal yang sama tahun lalu produksi sebesar 13.080 ton, penjualan 13.867 ton dan harga rata-rata US$9.117 ton.

Presiden Direktur Vale Indonesia Nico Kanter mengatakan pandemi covid-19 telah menyebar dengan cepat di seluruh dunia. Hal itu menyebabkan perlambatan ekonomi yang berdampak negatif pada permintaan-pasokan di industri nikel.

Sentimen tersebut pada akhirnya mendorong tren penurunan harga nikel pada triwulan pertama tahun 2020, tren yang berpotensi berlanjut ke triwulan kedua.

“Kami menghargai kerja keras seluruh karyawan. Meskipun harus fokus mengantisipasi kemungkinan dampak COVID-19 pada operasi kami, kami masih dapat mencapai hasil yang baik pada triwulan ini,” katanya.

Selain itu, INCO juga tercatat memproduksi High Sulphur Fuel Oil sebesar 333.157 barel, diesel 20.337 kilo liter, dan batubara 92.429 ton. Adapun harga rata-rata masing-masing produk adalah US$50,66 per barel, US$0,55 per liter dan US$106,01 per ton.

Menurutnya, penggunaan HSFO per ton nikel yang diproduksi menurun sebesar 10 persen dibandingkan triwulan sebelumnya dan menurun sebesar 11 persen dibandingkan tahun lalu.

Di sisi lain, konsumsi diesel dan batubara pada kuartal I meningkat masing-masing sebesar 9 persen dan 2 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.

Konsumsi diesel yang lebih tinggi terutama disebabkan oleh jarak angkut tambang yang lebih jauh.

“Melihat pencapaian sejauh ini dan dengan asumsi tidak ada dampak besar dari COVID-19 pada operasi kami, kami yakin dapat mempertahankan tingkat produksi kami pada tahun 2020,“ katanya.

Nico menegaskan perseroan akan tetap fokus pada berbagai inisiatif penghematan biaya untuk mempertahankan daya saing dalam jangka panjang.

Perseroan, lanjutnya, telah melakukan berbagai langkah untuk mengantisipasi dan mengurangi dampak potensial dari penyebaran COVID-19 terhadap operasional. Sementara kesehatan dan keselamatan tetap menjadi prioritas utama.

“Beberapa keputusan dan tindakan penting telah diambil untuk meminimalkan risiko infeksi di tempat kerja,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham Kinerja Emiten vale indonesia tbk
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top