Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Reksa Dana Syariah, Alhamdulillah Kinerja Return dan NAB Bertambah

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dana kelolaan atau nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana syariah per akhir Maret 2020 mencapai Rp57,42 triliun, naik 6,87 persen dibandingkan NAB reksa dana syariah per akhir Desember 2019 yang sebesar Rp53,73 triliun.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 27 April 2020  |  06:25 WIB
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah penyusutan dana kelolaan industri investasi kolektif, nilai aktiva bersih reksa dana syariah tercatat meningkat. Di sisi lain, secara kinerja return indeks reksa dana syariah lebih baik dari produk lainnya.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dana kelolaan atau nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana syariah per akhir Maret 2020 mencapai Rp57,42 triliun, naik 6,87 persen dibandingkan NAB reksa dana syariah per akhir Desember 2019 yang sebesar Rp53,73 triliun.

Adapun secara persentase terhadap total NAB secara industri, per akhir Maret 2020 reksa dana syariah berkontribusi 12,15 persen, sedangkan per akhir Desember 2019 hanya 9,91 persen.

Dari sisi kinerja, rata-rata produk reksa dana syariah membukukan kinerja yang lebih baik dibandingkan produk reksa dana konvensional.

Mengacu pada data Infovesta Utama per 23 Maret 2020, produk reksa dana saham syariah yang dihimpun dalam indeks Infovesta Sharia Equity Fund Index mencatatkan return -24,34 persen,

Adapun, produk reksa dana konvensional yang diilustrasikan dalam Infovesta 90 Equity Fund Index terperosok lebih dalam yakni -27,52 persen.

Kemudian, produk reksa dana campuran syariah yang tergambar dalam Infovesta Sharia Balanced Fund Index memiliki return -14,23 persen, lebih baik dibandingkan dengan produk reksa dana campuran konvensional dalam Infovesta 90 Balanced Fund Index dengan return -15,37 persen.

Begitu pula dengan reksa dana pendapatan tetap syariah yang imbal hasilnya -0,73 persen, sedangkan reksa dana pendapatan tetap konvensional -1,05 persen.

Pun, reksa dana pasar uang syariah tercatat memiliki return 1,56 persen, lebih tinggi dibandingkan kinerja reksa dana pasar uang konvensional yakni 1,44 persen.

Head of Capital Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan kinerja produk reksa dana syariah yang secara rata-rata lebih moncer dibandingkan reksa dana konvensional patut diapresiasi.

Wawan membandingkan dengan indeks acuan syariah yakni Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) yang secara year to date hingga 22 April 2020 telah terkoreksi 26,16 persen, sedangkan indeks reksa dana syariah bertahan di -24,34 persen.

“Jadi reksa dana saham [syariah] meskipun sama-sama minus, saya appreciate sih, karena kalau dibandingkan 2 tahun lalu dia pasti akan ada jauh di bawah ISSI. Sekarang jauh lebih baik,” katanya saat dihubungi Bisnis.com belum lama ini.

Wawan menilai saat ini manajer investasi jauh lebih konservatif dalam meracik portofolio sahamnya sehingga dapat membukukan kinerja lebih baik. Pun, dalam menentukan komposisi reksa dana lainnya seperti pendapatan tetap dan pasar uang.

Dia memproyeksikan kinerja moncer reksa dana saham syariah akan bertahan hingga akhir tahun. Meski kemungkinan besar masih membukukan return minus, tapi kinerja rd saham syariah tetap akan lebih baik dibanding indeks acuannya.

Sementara untuk reksa dana pendapatan tetap syariah, kinerjanya diprediksi akan terus menanjak dan berbalik positif hingga akhir tahun nanti. Ini sekaligus akan mendongkrak kinerja reksa dana campuran syariah.

Kemudian untuk reksa dana pasar uang syariah, Wawan mengatakan rate deposito syariah yang biasanya lebih menarik dibandingkan deposito konvensional turut menjadi dorongan bagi kinerja reksa dana pasar uang syariah.

Direktur Sales Mandiri Investasi Endang Astharanthi mengatakan dana kelolaan produk syariah Mandiri Manajemen Investasi sepanjang kuartal I/2020 tumbuh signifikan hingga 19 persen dibandingkan akhir tahun 2019.

“Driver pertumbuhannya dari produk reksa dana pasar uang dan reksa dana terproteksi,” ujarnya kepada Bisnis.com, akhir pekan lalu.

Lebih lanjut, Endang mengatakan di tengah momentum Ramadan setiap tahunnya, MMI melakukan beberapa kampanye terkait produk reksa dana syariah untuk menjaring minat nasabah.

Dia menjagokan dua produk syariah dari MMI yakni reksa dana saham berdenominasi dolar Mandiri Global Syariah Equity Dollar (MGSED) yang berinvestasi ke saham-saham global, serta reksa dana pasar yang Mandiri Investa Pasar Uang Syariah.

Senada, Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich mengatakan saat Ramadan biasanya ada permintaan produk syariah dibandingkan hari-hari biasanya. Maka dari itu pihaknya berencana merilis produk baru di tengah momentum ini.

“Kami berencana memasarkan reksa dana terproteksi syariah yang baru saat Ramadhan ini, dengan pembagian hasil investasi tiap tiga bulan,” tutur Farash.

Sejauh ini Avrist AM tercatat telah memiliki 8 produk reksa dana syariah. Adapun produk yang paling tinggi dana kelolaannya adalah reksa dana pasar uang Avrist Ada Kas Syariah dengan NAB sebesar Rp512,57 miliar.

Farash mengaku optimistis dengan kinerja reksa dana syariah. Dia mengatakan meski sejauh ini kinerja indeks saham syariah turun seperti indeks saham konvensional, tapi kini indeks syariah berhasil rebound lebih tinggi.

Dihubungi terpisah, Chief Product Development and Head of Sharia Unit Eastspring Investments Indonesia Rian Wisnu Murti mengatakan bulan Ramadan memang menjadi momentum yang tepat untuk mengusung tema investasi syariah.

Namun, ujar Rian, sebagai salah satu negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, tema investasi syariah sebenarnya dapat di usung kapan saja ke publik. Dengan demikian, produk ini dapat menjadi andalan sepanjang tahun.

“Akan tetapi tantangan terbesar untuk pengembangan pasar modal syariah ini adalah masih rendahnya tingkat literasi dan inklusinya,” imbuhnya.

Menurutnya, secara umum ada tiga hal yang perlu diperhatikan investor saat ingin berinvestasi di produk syariah.

Pertama, wajib memastikan produk investasi syariah itu sesuai dengan profil risiko. Kedua, harus menyesuaikan produk investasi syariah dengan horizon investasi. Kemudian terakhir, memastikan produk investasi syariah itu sudah sesuai dengan prinsip syariah.

“Terkait dengan hal ini, OJK sudah mensyaratkan dibentuknya Unit Pengelolaan Investasi Syariah (UPIS) di setiap Manajer Investasi yang mengelolan dana syariah untuk memastikan bahwa aktivitas investasi yang dilakukan sudah sesuai dengan prinsip syariah,” jelasnya.

Adapun dia menyebut tiga produk reksa dana syariah yang menjadi andalan Eastspring, yaitu RDS Equity Islamic Asia Pacific USD, RDS Money Market Khazanah dan RDS Fixed Income Amanah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi reksa dana reksa dana syariah
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top