Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

EMITEN LAHAN INDUSTRI: Antara Ekspansi dan Menahan Diri

Presiden Direktur Surya Semesta Internusa Johannes Suriadjaja mengatakan tahun ini lebih menantang daripada tahun lalu. Pasalnya beberapa calon pembeli menunda perjalanan bisnis akibat larangan bepergian yang diterapkan sejumlah negara.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 29 Maret 2020  |  09:40 WIB
Kawasan Industri Surya Cipta, Kawarang. Kawasan ini dikelola PT Surya Semesta Internusa Tbk. - suryainternusa.com
Kawasan Industri Surya Cipta, Kawarang. Kawasan ini dikelola PT Surya Semesta Internusa Tbk. - suryainternusa.com

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten lahan industri menghadapi tantangan berat tahun ini untuk bisa menyamai torehan tahun lalu karena beberapa calon pembeli menunda kesepakan akibat COVID-19.

Presiden Direktur PT Surya Semesta Internusa Tbk. Johannes Suriadjaja mengatakan tahun ini lebih menantang daripada tahun lalu. Pasalnya beberapa calon pembeli menunda perjalanan bisnis akibat larangan bepergian yang diterapkan sejumlah negara.

“[Karena ada penyebaran virus calon pembeli] menahan dan banyak yang sudah tidak bisa traveling lagi jadi tertunda semua,” katanya kepada Bisnis.com.

Johannes menambahkan penjualan baru kemungkinan bakal naik pada semester II/2020 sedangkan untuk semester I/2020 masih terbilang landai. Selain itu, rencana peresmian Subang City Industry (SCI) milik PT Surya Semesta Internusa Tbk. juga terpaksa mundur.

Sebelumnya, emiten berkode saham SSIA itu menargetkan bisa meresmikan kawasan industri anyar itu pada Juli 2020. Namun, melihat situasi dan kondisi yang berjalan Johannes mengatakan peresmian akan diundur sampai Agustus atau September.

“Untuk proyek Subang karena situasi saat ini, rencananya ground breaking akan terjadi antara bulan Agustus atau September. Sebab calon pembeli delay ke semester II/2020,” ungkapnya.

Sebagai informasi, saat ini permintaan SCI mencapai 200 hektare. Rencananya peluncuran perdana akan seluas 250 hektare. Lahan itu 70 persen akan digunakan oleh perseroan untuk kawasan industri sedangkan 30 persen dari sisanya adalah daerah residensial bagi para pekerja.

Meski demikian, SSIA belum akan merevisi target pemasaran lahan tahun ini seluas seluas 20 hektare. Jumlah itu naik 12,35 persen dari realisasi tahun lalu sebesar 17,8 hektare setara dengan Rp298 miliar. Menurut Johannes masih ada peluang yang lebar usai bencana pandemi berakhir.

“Kami masih tetap pada target marketing sales karena yakin setelah keadaaan membaik mereka akan datang kembali. Mudah-mudahan virus ini bisa cepat selesai,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. Muljadi Suganda mengatakan COVID-19 telah mempengaruhi proses penjualan. Sama halnya dengan SSIA, calon pembeli Jababeka yang berasal dari luar negeri juga terhambat perjalanannya.

“Tentu ini ada pengaruhnya terhadap proses penjualan yang sedang berjalan khususnya terutama untuk investor asing karena masalah travelling,” ungkapnya.

Namun bukan hanya investor asing, Mulyadi pun menambahkan beberapa calon investor domestik juga cenderung menahan dan menunggu perkembangan lanjutan dari penyebaran virus corona. Meski demikian, Mulyadi mengatakan prospek penjualan masih bagus.

“Sejauh ini prospek masih melakukan komunikasi dan menyatakan minatnya untuk investasi,” katanya. Adapun calon investor yang tengah merapat berasal dari empat sektor besar. Keempat sektor itu, lanjutnya, adalah logistik, manufaktur, garmen dan tekstil.

Di sisi lain Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan permohonan izin yang masuk di tengah wabah Covid-19 justru meningkat 17,6 persen per 2 Maret hingga 18 Maret.

Dari posisi 204.199 perizinan berusaha menjadi 240.178 perizinan berusaha. Selain itu, permohonan nomor induk berusaha (NIB) meningkat 18,99% dari 39.618 NIB pada periode sebelumnya menjadi 47.144 NIB

Sementara itu, laporan keuangan 2019 dua pemain lain yakni PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk. (BEST) dan PT Puradelta Lestari Tbk. (DMAS) menggambarkan ketatnya persaingan. Pasalnya di satu sisi DMAS mencatatkan pertumbuhan laba 168 persen sedangkan BEST terkoreksi 10,03 persen.

BEST membukukan laba bersih sebesar Rp380,15 miliar turun dari posisi tahun sebelumnya Rp422,53. Hal ini diakibatkan oleh terkoreksi pendapatan 1,27 persen ke level Rp950,54 miliar. Selain itu, beban pokok, beban umum dan beban keuangan masing-masing mencatatkan pertumbuhan 16,81 persen, 6,48 persen dan 15,07 persen.

Segmen penjualan tanah menyumbang Rp796,35 miliar turun 3,87 persen dari posisi sebelumnya Rp828,48 miliar. Kontribusi penjualan terbesar berasal dari PT Daiwa House Indonesia Rp367,11 miliar dan PT Mega Jaya Lestari Properti Rp137,86 miliar.

Di sisi lain, DMAS mencatatkan laba bersih sebesar 168,41 persen dari posisi tahun 2018 sebesar Rp496,25 miliar. Total pendapatan tercatat sebesar Rp2,65 triliun sedangkan tahun sebelumnya Rp1,03 triliun. Adapun yang menopang penjualan utamanya adalah segmen industri dengan raihan Rp2,01 triliun.

PT Hyundai Motor Manufacturing Indonesia menjadi pembeli utama bagi DMAS dengan sumbangan Rp1,36 triliun. Jumlah itu setara dengan 51,32 persen dari total pendapatan selama setahun. Posisi kedua ditempati oleh PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia sebesar Rp485,05 miliar yang berkontribusi sebesar 18,30 persen.

Analis Samuel Sekuritas Indonesia Ilham Akbar Muhammad mengatakan tahun ini akan menjadi lebih menantang dibandingkan dengan sebelumnya. Bila tahun lalu, SSIA dan DMAS bisa mencetak penjualan lahan yang signifikan belum tentu dengan saat ini.

“Semua investor masih wait and see saat ini. Tidak bisa dikatakan berat karena semua bisa berubah dengan cepat,” katanya.

Menurutnya, terdapat potensi penundaan foreign domestic investment (FDI) dalam negeri dengan penyebaran COVID-19. Hal itu, tentu saja dapat mengoreksi pertumbuhan emiten lahan industri.

“Kalau FDI tertunda pasti penjualan mereka terimbas karena mereka hulu sekali. Untuk saat ini belum ada rekomendasi karena semua masih under review,” katanya.

Sementara itu, Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan dibalik potensi koreksi penjualan terdapat potensi kenaikan penjualan berkat penurunan suku bunga kredit.

“Momentum ini bisa jadi peluang seandainya mereka menurunkan harga jual bersamaan dengan relaksasi suku bunga kredit usaha. Artinya harga lebih murah dibandingkan yang lain,” katanya.

Selain itu, Reza menargetkan saham SSIA bisa meyentuh Rp750, DMAS Rp360, KIJA Rp300 dan BEST Rp170.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jababeka surya semesta internusa lahan industri
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top