Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Cakep ! Rupiah Menguat 1,18 Persen, Jadi Juara Asia

Penguatan rupiah terhadap dolar AS sebesar 1,18 persen diikuti penguatan mata uang Asia lainnya seperti ringgit dan rupee.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 26 Maret 2020  |  17:50 WIB
Karyawan menunjukan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (23/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menunjukan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (23/3/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah menutup perdagangan Kamis (26/3/2020) dengan torehan ciamik, menguat 1,18 persen terhadap dolar AS. Apresiasi rupiah dipicu kembalinya kepercayaan diri investor untuk mengumpulkan aset berisiko.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah parkir di level Rp16.305 per dolar AS, menguat 1,18 persen atau 195 poin. Penguatan itu menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terbaik di Asia, mengalahkan ringgit yang menguat 1,16 persen dan rupee yang terapresiasi 0,97 persen.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama bergerak melemah 0,62 persen ke level 100,423.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa penguatan rupiah didukung oleh sentimen pelaku pasar yang dengan cemas menanti paket stimulus senilai US$2 triliun untuk mengimbangi dampak ekonomi dari pandemi virus corona atau Covid-19. 

Untuk diketahui, Senat AS telah mengesahkan RUU paket stimulus ekonomi dan kesehatan senilai US$2 triliun untuk menghadapi efek negatif dari penyebaran virus corona. DPR AS dijadwalkan akan mengambil suara untuk mengesahkan RUU ini pada Jumat mendatang.

Keputusan itu membantu menaikkan selera investor untuk kembali mengoleksi aset berisiko dan menekan kecenderungan investor untuk melikuidasi aset-aset guna mengumpulkan lebih banyak dolar AS.

Adapun, selain AS, pemerintah negara lainnya, termasuk Indonesia,juga telah menggelontorkan stimulus guna menjaga ekonomi tidak bergerak negatif akibat penyebaran Covid-19.

 

“Banjirnya stimulus yang digelontorkan pemerintah menjadi sentimen positif bagi mata uang garuda sehingga  dapat mengangkat kembali kepercayaan diri investor untuk mengumpulkan aset berisiko seiring dengan harapan perlambatan ekonomi dapat dibatasi,” ujar Ibrahim seperti dikutip dari keterangan resminya, Kamis (26/3/2020).

Dia memproyeksi pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat (27/3/2020), rupiah melanjutkan penguatannya imbas dari data eksternal terutama stimulus tak terbatas. Rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp16.220-Rp16.430 per dolar AS.  

CAPITAL CONTROL

Di sisi lain, perusahaan keuangan Citigroup Inc melihat seiring dengan banyaknya arus modal keluar yang terjadi di pasar negara berkembang akibat sentimen penyebaran Covid-19, negara-negara itu mungkin akan segera mengambil langkah pengontrolan terhadap modal atau Capital Controls.

Head of EM Economic Citigroup David Lubin mengatakan bahwa dengan semakin banyaknya arus modal keluar dari pasar-pasar negara berkembang, mungkin dunia tidak lama lagi akan melihat banyak bank sentral akan membatasi pergerakan arus modal yang keluar dan masuk.

 

 

“Eksperimen dengan capital controls, mungkin akan segera diadopsi oleh banyak bank sentral pasar negara berkembang untuk melindungi pasarnya masing-masing dalam kondisi saat ini,” ujar David seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (26/3/2020).

Mengutip data Bloomberg, capital outflow dari obligasi dan pasar ekuitas negara berkembang dalam dua minggu terakhir telah mendekati 4 persen dari nilai aset bersih oleh beberapa akun. Untuk sepanjang bulan ini saja, mata uang negara Brasil, Indonesia, Kolombia, dan Meksiko telah merosot lebih dari 10 persen terhadap dolar AS.

Adapun, berdasarkan data Bank Indonesia (BI) aliran modal asing yang keluar dari Indonesia sejak awal tahun hingga periode 23 Maret 2020 telah mencapai Rp125,2 triliun. 

Sebelumnya, Pengamat Pasar Mata Uang Farial Anwar mengatakan bahwa langkah yang diambil oleh Bank Indonesia dengan memperkuat intensitas kebijakan triple intervention sudah cukup baik, tetapi tidak dapat membendung tekanan global.

Saat ini, pasar Indonesia selalu dinilai sebagai pasar yang menarik karena spread suku bunga yang cukup jauh dari dolar AS, inflasi yang cenderung stabil, dan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik sehingga imbal hasil yang didapatkan bisa lebih besar walaupun resiko tinggi.

Namun, dalam keadaan saat ini, di tengah banyak ketidakpastian, dana asing cenderung keluar dari pasar Indonesia dan hal tersebut sulit untuk dicegah.

“Itulah yang cukup sulit bagi Indonesia di tengah rezim devisa bebas, dana asing dapat keluar dan masuk dengan mudah sehingga ketika dana asing keluar kita cukup panik,” jelas dia.

Dia mengatakan, pasar harus diperlukan langkah pengendalian capital inflow dengan menahan dana asing yang masuk setidaknya satu hingga dua bulan agar dapat membatasi keluarnya dana asing berbondong-bondong.

Pergerakan Mata Uang Asia, Kamis (26/3/2020 Pukul 16.40 WIB
MATA UANG
PERGERAKAN
Rupiah
+1,18%
Ringgit
+1,16%
Rupee
+0,97%
Dolar Singapura
+0,57%
Baht
+0,38%
Yuan
+0,30%
Peso Filipina
+0,12%
Dolar Taiwan
+0,11%
Dolar Hong Kong
-0,01%
Won
-0,3%

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah Rupiah Virus Corona
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top