Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penyebaran Virus Corona Semakin Luas, Logam Dasar Bergerak Variatif

Harga nikel berhasil menguat 0,8 persen menjadi US$12.550 per ton dan harga seng juga naik 0,84 persen menjadi US$2.046 per ton.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 27 Februari 2020  |  15:46 WIB
Ilustrasi cincin tembaga. - Bloomberg/Andrey Rudakov
Ilustrasi cincin tembaga. - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA - Harga logam dasar bergerak variatif di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap penyebaran virus corona baru atau Covid-19 yang semakin meluas ke luar China.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (26/2/2020) harga nikel dan harga seng di bursa London berhasil bergerak di zona hijau, sedangkan harga logam dasar lainnya masih terperangkap di zona merah.

Harga nikel berhasil menguat 0,8 persen menjadi US$12.550 per ton dan harga seng juga naik 0,84 persen menjadi US$2.046 per ton. Sementara itu, harga tembaga melemah 0,26 persen menjadi US$5.670 per ton, harga aluminium terkoreksi 0,41 persen menjadi US$1.696 per ton, dan harga timah turun 0,27 persen menjadi US$16.680 per ton.

Kendati demikian, secara year to date seluruh harga logam dasar tidak ada yang mampu menunjukkan kinerja yang cukup baik, termasuk nikel yang menjadi komoditas dengan kinerja terbaik pada tahun lalu.

Kinerja terburuk year-to-date justru dipimpin oleh nikel dengan bergerak melemah 10,52 persen, diikuti oleh seng yang melemah 9,95 persen, dan tembaga yang melemah 8,16 persen.

Mengutip riset Shanghai Metal Markets, mayoritas logam dasar melemah karena cukup banyak pabrik di China yang tidak menjalankan operasinya sehingga pasokan logam secara global pun diproyeksi dapat membludak.

Baca Juga : Harga Emas Hari Ini

“Logam dasar melemah karena pasar condong ke arah surplus di tengah ekspektasi bahwa wabah virus corona dapat sangat merusak konsumsi,” tulis Shanghai Metal Markets dalam risetnya seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (27/2/2020).

Mengutip Bloomberg, pasokan tembaga global telah membengkak ke level tertinggi sejak September 2018 dan melonjak 50 persen pada bulan ini.

Sementara itu, analis Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan bahwa sentimen penyebaran virus corona semakin menekan harga logam dasar yang mayoritas fundamentalnya belum cerah.

“Walaupun ada harapan lebih baik daripada 2019, dengan adanya isu virus ini, bagi komoditas secara umum semakin menekan harga,” ujar Wahyu kepada Bisnis, Rabu (26/2/2020).

Sejauh ini, tren pergerakan tembaga masih lemah dan belum kuat untuk keluar dari tren bearish. Tembaga akan menguji level US$5.519 per ton, dan jika berhasil menembus level itu, maka ancaman pelemahan lebih dalam bisa berlanjut.

Untuk kuartal pertama tahun ini, tembaga diproyeksi bergerak di kisaran US$5.400 per ton hingga US$6.400 per ton.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Nikel logam komoditas tembaga
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top