Penawaran Sukuk Negara Diramal Tembus Rp40 Triliun

Permintaan terhadap sukuk negara diperkirakan bakal tetap tinggi, ditunjang stabilitas perekonomian Indonesia.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 10 Februari 2020  |  13:32 WIB
Penawaran Sukuk Negara Diramal Tembus Rp40 Triliun
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Luki Alfirman (kiri) dan Direktur Pembiayaan Syariah DJPPR Kemenkeu Dwi Irianti Hadiningdyah (kanan), menggandeng Youtuber dengan subscriber terbesar di Asia Tenggara, Atta Halilintar (tengah) untuk mempromosikan instrumen sukuk negara tabungan seri ST-003 yang mulai dipasarkan pada Jumat (1/2/2019). - Bisnis/Emanuel B. Caesario

Bisnis.com, JAKARTA - Anugerah Sekuritas Indonesia memperkirakan penawaran terhadap surat berharga syariah negara (SBSN) pada lelang yang digelar Selasa (11/2/2020) bakal mencapai Rp40 triiliun. Jumlah tersebut hampir enam kali lipat dibandingkan dengan target indikatif sebesar rp7 triliun.

Analis Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto mengatakan minat investor terhadap sukuk negara atau jenis obligasi yang diterbitkan pemerintah akan tetap tinggi. Dia memperkirakan, target indikatif sebesar Rp7 triliun akan terlampaui.

Ramdhan menambahkan, perkiraan itu didasarkan pada beberapa lelang surat utang negara yang mana permintaan dari investor membeludak. Misalnya, lelang pada 4 Februari 2020 mendatangkan penawaran Rp96,90 triliun. “Saya perkirakan total penawaran lelang sukuk besok dapat menembus angka sekitar Rp40 triliun,” ujarnya saat dihubungi Bisnis.com, Senin (10/2/2020).

Ramdhan menjabarkan, minat investor terhadap surat utang negara maupun sukuk negara masih akan tinggi karena didukung likuiditas Indonesia yang lebih baik bila dibandingkan dengan negara-negara lainnya.

Selain itu, faktor dalam negeri yang kondusif juga turut menjadi alasan investor untuk memburu surat utang yang diterbitkan pemerintah. Stabilitas perekonomian menjadi faktor lain yang membuat investor tertarik pada surat utang pemerintah.

Ramdhan mengakui, pasar obligasi saat ini memang masih dilanda ketidakpastian. Namun, hal itu didorong oleh faktor eksternal, seperti sentimen perang dagang Amerika Serikat dan China ataupun wabah virus corona.“Bila kondisi eksternalnya membaik dalam beberapa waktu ke depan, peluang imbal hasil obligasi Indonesia mengalami kenaikan cukup terbuka,” jelasnya.

Permintaan terhadap sukuk maupun SBN Indonesia lainnya, lanjut Ramdhan akan tetap tinggi setidaknya hingga Maret 2020 mendatang. Dia mengungkapkan, sepanjang Januari 2020 dan Februari 2020, para manajer investasi mulai membentuk portofolio baru yang mana secara langsung mendorong permintaan terhadap surat utang negara.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, sukuk

Editor : Rivki Maulana
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top