Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Diwarnai Outflow Dana Asing, Pasar Obligasi akan Bergerak Variatif

Aliran dana asing keluar membuat tren penguatan pasar obligasi tertahan.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 10 Februari 2020  |  08:34 WIB
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan pasar obligasi akan bergerak bervariasi pada perdagangan Senin (10/2/2020) di tengah tren yang menunjukkan perlambatan.

Dalam laporan riset Pilarmas yang dikutip Bisnis.com, pasar obligasi disebut mulai menunjukkan tren perlambatan seiring ketidakpastian dan derasnya aliran modal asing yang keluar dari pasar Indonesia.

Aliran dana keluar diperkirakan terjadi sebagai dampak peningkatan jumlah korban virus corona yang sejauh ini belum ada penemuan vaksin untuk menangkal virus tersebut. Perusahaan asal China Tencent kemarin juga merilis data yang menunjukkan jumlah orang yang terinfeksi lebih besar dari perkiraan Pemerintah China.

"Hal ini semakin menambah ketidakpastian dunia, termasuk pada pasar obligasi," tulis Pilarmas dalam laporan riset.

Pada perdagangan Senin (10/2/2020), pasar obligasi diperkirakan akan dibuka bervariatif dengan potensi pergerakan obligasi di rentang 30 bps – 65 bps. Keluarnya dana asing, membuat tren penguatan menjadi tertahan. Namun, hal itu dianggap sebagai konsekuensi dari situasi global yang terjadi saat ini.

Sentimen global yang bisa mempengaruhi pergerakan pasar antara lain penegasan kesepakatan fase pertama antara Presiden Amerika Seikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Kedua pemimpin negara sejauh ini sepakat untuk melanjutkan komunikasi dan kerjasama yang lebih luas antara kedua belah pihak.

Sejauh ini masih, Trump masih mempercayai kekuatan dan ketahanan China untuk menghadapi wabah virus Corona. Sementara itu, China telah mengumumkan pada hari Kamis lalu mereka akan memangkas tarif barang barang dari Amerika, dan menjalankan kesepakatan perjanjian tahap pertama.

Sementara itu, Federal Reserve Amerika Serikat (The Fed) melansir wabah virus corona memberikan resiko baru terhadap prospek ekonomi Amerika dan memperingatkan gangguan di pasar global. Hal ini bisa terjadii karena kekuatan ekonomi China dapat mempengaruhi pasar global melalui penguatan mata uang dollar dan penurunan harga perdagangan serta komoditas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi Virus Corona
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top