Pilarmas : Pasar Obligasi Menguji Level Psikologis Baru

Imbal hasil pasar obligasi Indonesia berada di titik terendah dalam dua tahun terakhir sehingga menimbulkan peluang terjadinya kenaikan.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 07 Februari 2020  |  08:34 WIB
Pilarmas : Pasar Obligasi Menguji Level Psikologis Baru
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan pasar obligasi akan menguat pada perdagangan Jumat (7/2/2020).

Dalam laporan riset Pilarmas yang dikutip Bisnis.com, Jumat (7/2/2020), imbal hasil pasar obligasi Indonesia saat ini berada di titik terendah dalam dua tahun terakhir. Hal ini patut diapresiasi karena di tengah situasi pasar yang dilanda ketidakpastian, pasr obligasi masih menunjukkan harapan.

"Inilah yang membuat pasar obligasi terus mencatat kenaikan," tulis Pilarmas.

Menurut Pilarmas, investor dalam negeri tidak kehilangan taji kendati investor asing di pasar asing hengkang. Kepercayaan diri investor lokal dinilai akan memegang kendali pasar obligasi sehingga tetap stabil.

Pilarmas memprediksi, pasar obligasi akan dibuka menguat dengan potensi penguatan terbatas. Investor diminta untuk berhati-hati karena saat ini pasar obligasi sedang menguji level psikologis baru.

"Kami merekomendasikan wait and see dengan rentang pergerakan 25 – 60 bps. Investor sebaiknya berhati hati dan mencermati sentimen yang ada," imbau Pilarmas.

Dari luar negeri, kesepakatan fase pertama antara Amerika Serikat dan China akan menjadi sentimen pergerakan pasar obligasi. Beijing melansir tengah menerapkan kesekapatan tersebut meskipun wabah virus corona belum mereda. Beijing juga mengumumkan pemangkasan tarif tambahan atas produk Amerika Serikat senilai US$75 miliar.

Sementara itu, Bank Sentral India mempertahankan tingkat suku bunga dalam Rapat Dewan Gubernur yang dilakukan kemarin. Bank Sentral India menyebut kenaikkan inflasi akan tetap sesuai rencana yang akan meningkat hingga bulan Maret 2020. Namun peluang penurunan suku bunga masih terbuka.

Di Eropa, Euro Central Bank (ECB) mengungkapkan wabah virus corona menimbulkan ketidakpastian ekonomi. ECB mengingatkan bahwa wabah ini tidak bisa dianggap sebagai hal biasa. Gubernur ECB Christine Lagarde menempatkan risiko penyebaran virus corona pada tingkat yang sama dengan risiko global lain seperti perang dagang dan konflik geopolitik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Rivki Maulana
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top