Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Virus Corona Seret Indeks Stoxx ke Zona Merah

Potensi tekanan terhadap bisnis dari virus corona (coronavirus) yang menyebar cepat di China menyeret bursa saham Eropa lebih dari 2 persen pada perdagangan Senin (27/1/2020)
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 28 Januari 2020  |  06:04 WIB
Indeks Bursa Eropa - Reuters
Indeks Bursa Eropa - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Potensi tekanan terhadap bisnis dari virus corona (coronavirus) yang menyebar cepat di China menyeret bursa saham Eropa lebih dari 2 persen pada perdagangan Senin (27/1/2020)

Indeks Stoxx Europe ditutup merosot 2,26 persen atau 9,57 poin ke level 414,07. Lebih dari 97 persen saham indeks diperdagangkan di zona merah dengan banyak di antaranya jatuh dari rekor tertinggi. Kapitalisasin pasar di bursa Eropa merosot sekitar 180 miliar euro.

Tekanan terbesar dirasakan sektor barang mewah, maskapai penerbangan, dan perhotelan, yang biasanya mendapat permintaan besar dari konsumen di China saat Tahun Baru Imlek. Sejumlah emiten penjual barang mewah Eropa telah kehilangan lebih dari US$50 miliar nilai pasar sejak wabah corona mulai menyebar pekan lalu.

Sebagian besar indeks utama di Eropa turun lebih dari 2 persen, sementara sektor regional masing-masing kehilangan setidaknya 1 persen.

Indeks DAX Jerman merosot hampir 3 persen, sementara CAC Prancis membukukan kinerja perdagangan terburuk dalam hampir empat bulan karena LVMH, Christian Dior, Hermes dan Kering turun lebih dari 3,6 persen.

Sementara itu, perusahaan barang mewah lain seperti Burberry Group Plc, Moncler SpA, produsen jam Swiss Swatch dan Richemont melemah antara 2,5 persen hingga 4,8 persen.

Membandingkan virus corona baru dengan wabah SARS pada 2002-03, analis Bernstein menyoroti bahwa warga negara China hanya menyumbang 2 persen dari pasar barang mewah global pada 2003 dibandingkan 35 persen pada 2019.

"Pasar modal akhirnya mulai merenungkan kemungkinan bahwa virus 2019-nCoV di China akan memiliki dampak ekonomi yang signifikan karena isolasi kota sekarang memengaruhi 56 juta orang," kata Peter Garnry, kepala analis di Saxo Bank, seperti dikutip Reuters.

Sementara itu, opsi investasi safe haven seperti emas dan obligasi pemerintah naik karena jumlah kematian akibat wabah di China meningkat menjadi 81 dan jumlah kasus infeksi melonjak sekitar 30 persen dalam sehari.

"Dengan pasar yang ingin mengambil untung, apa yang mungkin akan Anda lihat sampai semuanya beres adalah perpindahan dari jenis kepemilikan berisiko ke kepemilikan yang lebih terfokus pada nilai dan kembali ke emiten yang membayar dividen yang layak dan lebih fokus ke dalam negeri," kata Stephan Lueck, wakil presiden senior di Auerbach Grayson.

"Untuk jangka pendek, kita akan memiliki gambaran yang lebih jelas dalam satu hingga dua pekan ke depan. Jadi berikan pasar beberapa minggu untuk menjual dan jika tidak ada terlalu banyak kematian kita akan melihat stabilitas dalam sebulan ke depan."

Dengan meningkatnya pembatasan perjalanan, operator penerbangan Air France, Lufthansa, operator jalur pelayaran Carnival Corp, grup hotel Accor dan IHG terpukul. IHG mencatat penurunan terburuknya dalam lebih dari tiga tahun terakhir.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa eropa virus corona
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top