Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

AS-China Mulai Akur, Harga Minyak Mentah Menguat ke Level Tertinggi

Harga minyak mentah menguat ke level tertinggi dalam lebih dari sepekan terakhir pada Kamis (16/1/2020) setelah kesepakatan perdagangan awal antara AS dan China serta perjanjian Amerika Utara mendorong optimisme pertumbuhan ekonomi.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 17 Januari 2020  |  05:21 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah menguat ke level tertinggi dalam lebih dari sepekan terakhir pada Kamis (16/1/2020) setelah kesepakatan perdagangan awal antara AS dan China serta perjanjian Amerika Utara mendorong optimisme pertumbuhan ekonomi.

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman Februari menguat 1,2 persen atau 0,71 poin ke level US$58,52 per barel di New York Mercantile Exchange setelah sebelumnya naik dengan laju terbesar sejak 8 Januari.

Sementara itu, minyak Brent untuk kontrak Maret menguat 0,62 poin ke level US$64,62 per barel di bursa ICE Futures Europe. Minyak mentah patokan global diperdagangkan premium US$6,09 premium dibandingkan bulan yang sama.

Di bawah penyelesaian perjanjian awal antara ekonomi terbesar di dunia, China berjanji untuk meningkatkan pembelian komoditas AS. Sementar aitu, Senat menyetujui kesepakatan perdagangan Presiden Trump antara AS-Meksiko-Kanada (USMCA) yang mengubah perjanjian NAFTA 1994.

“Perjanjian China-AS dan pengesahan USMCA oleh Senat akan membantu meningkatkan perekonomian," kata Michael Lynch, presiden direktur Strategic Energy & Economic Research Inc, seperti dikutip Bloomberg.

Harga bangkit kembali setelah tenggelam ke level terendah enam pekan pada Rabu ketika Energy Information Administration (EIA) melaporkan stok minyak bumi domestik telah meningkat ke level tertinggi dalam empat bulan.

“Pasar akan terlihat telah naik lebih tinggi pada hari Rabu jika harga tidak turun tajam sebelum penandatanganan perdagangan AS-China,” kata Lynch. "Pasar telah bekerja lebih keras untuk membuat harga bangkit dari level terendah."

Badan Energi Internasional yang bermarkas di Paris dalam sebuah laporan memperkirakan permintaan minyak China mencapai rata-rata 14,1 juta barel per hari tahun ini, lebih tinggi dibandingkan dengan 13,6 juta tahun lalu.

“China adalah sumber kekhawatiran, dan kekhawatirannya adalah bahwa permintaan akan melambat. Tapi sepertinya tidak demikian,” kata Lynch.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china harga minyak mentah perang dagang AS vs China
Editor : Akhirul Anwar
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top