AS-China Teken Kesepakatan Fase Satu, Pelemahan Minyak Mentah Menipis

Minyak mentah memulihkan sebagian pelemahannya karena laporan cadangan minyak setelah AS dan China menandatangani fase pertama pakta perdagangan pada hari Rabu (15/1/2020).
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 16 Januari 2020  |  07:33 WIB
AS-China Teken Kesepakatan Fase Satu, Pelemahan Minyak Mentah Menipis
Seorang karyawan menunjukkan sampel minyak mentah di Ladang Minyak Yarakta, yang dimiliki oleh Perusahaan Minyak Irkutsk (INK), di Wilayah Irkutsk, Rusia. Ilustrasi gambar ini diambil pada 11 Maret 2019. - REUTERS/Vasily Fedosenko

Bisnis.com, JAKARTA – Minyak mentah memulihkan sebagian pelemahannya karena laporan cadangan minyak setelah AS dan China menandatangani fase pertama pakta perdagangan pada hari Rabu (15/1/2020).

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman Februari ditutup melemah 0,42 poin ke level US$57,81 per barel di New York Mercantile Exchange, setelah sebelumnya jatuh ke level US$57,36.

Sementara itu, minyak Brent berjangka untuk kontrak Maret 0,49 poin ke level US$64 per barel di ICE Futures Europe exchange. Minyak mentah acuan global diperdagangkan dengan premi US$6,16 dibandingkan WTI untuk bulan yang sama.

Dilansir dari Bloomberg, China sepakat untuk meningkatkan pembelian produk energi AS senilai US$52,4 miliar sebagai bagian dari kesepakatan perdagangan penting yang ditandatangani oleh dua negara adidaya ekonomi tersebut.

Di sisi lain, laporan cadangan minyak AS yang bearish yang menunjukkan lonjakan persediaan, sekaligus menahan kenaikan lebih lanjut menyusul kesepakatan tersebut.

Minyak rebound dari level terendah karena penandatanganan kesepakatan perdagangan AS-China, kata Bart Melek, kepala analis komoditas global di TD Bank di Toronto.

"Perjanjian ini dapat membuka jalan bagi permintaan global untuk meningkat setelah hampir dua tahun terlibat perselisihan,” ungkapnya, seperti dikutip Bloomberg.

Namun, minyak mentah berjangka AS tetap di bawah tekanan karena para pedagang fokus pada persediaan minyak AS yang meningkal hingga 15 juta barel ke level tertinggi dalam empat bulan terakhir.

Pada saat yang sama, produksi minyak domestik mencapai rekor baru.

Selain itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) meningkatkan proyeksi output minyak mentah bagi negara non-anggota tahun ini. Ini terjadi ketika ketegangan antara AS dan Iran memudar sejak pembunuhan seorang jenderal Iran awal bulan ini, sehingga turut meredakan kekhawatiran tentang pasokan dari Timur Tengah.

Laporan Energy Information Administration (EIA) menunjukkan stok bensin AS naik 6,68 juta barel minggu lalu, sementara pasokan minyak distilat meningkat 8,17 juta barel. Secara khusus, penurunan permintaan distilat berlawanan dengan musim dan kemungkinan karena cuaca yang lebih hangat baru-baru ini di Timur Laut.

Sementara itu, produksi minyak mentah AS mencapai 13 juta barel per hari. Peningkatan stok bahan bakar dan produksi membayangi penurunan cadangan minyak yang mencapai 2,55 juta barel.

Pergerakan minyak mentah WTI kontrak Februari 2020

Tanggal

Harga (US$/barel)

Perubahan

14/1/2020

57,81

-0,42 poin

13/1/2020

58,05

-0,96 poin

10/1/2020

59,01

-0,55 poin

 

Pergerakan minyak mentah Brent kontrak Maret 2020

Tanggal

Harga (US$/barel)

Perubahan

14/1/2020

64

-0,2 poin

13/1/2020

64,20

-0,78 poin

10/1/2020

64,98

-0,39 poin

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga minyak mentah, Donald Trump, perang dagang AS vs China

Editor : Akhirul Anwar
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top