Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Komoditas Lada Bakal Masuk Pasar Fisik Bursa Berjangka

PT Kliring Berjangka Indonesia (persero) mendorong perdagangan komoditas lada melalui kerjasama strategis dengan Bursa Berjangka Jakarta dan PT Wahana Inspirindo Sejahtera.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 23 November 2019  |  17:20 WIB
kiri kanan) Donny Raymond (Direktur Bursa Berjangka Jakarta), Dede Iswanto (Direktur PT Wahana Inspirindo Sejahtera, Himawan Purwadi (Kepala Bagian Penguatan dan Pengawasan Pasar Lelang Komoditas Bappebti) dan Fajar Wibhiyadi (Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia Persero), dan), disela-sela penandatanganan Nota Kesepahaman (Memotrandum of Understanding), yang diselenggarakan di Pangkal Pinang, Bangka Belitung, Jumat 22 November 2019. - Bisnis/Istimewa
kiri kanan) Donny Raymond (Direktur Bursa Berjangka Jakarta), Dede Iswanto (Direktur PT Wahana Inspirindo Sejahtera, Himawan Purwadi (Kepala Bagian Penguatan dan Pengawasan Pasar Lelang Komoditas Bappebti) dan Fajar Wibhiyadi (Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia Persero), dan), disela-sela penandatanganan Nota Kesepahaman (Memotrandum of Understanding), yang diselenggarakan di Pangkal Pinang, Bangka Belitung, Jumat 22 November 2019. - Bisnis/Istimewa
  • Ke depan komoditas lada akan diperdagangkan dalam bentuk pasar fisik di Bursa Berjangka Jakarta.
  • PT KBI akan bertindak sebagai lembaga Kliring dan Penjaminan Transaksi.
  • PT Wahana Inspirindo akan menyediakan sarana dan prasarana komoditas lada

Bisnis.com, JAKARTA - PT Kliring Berjangka Indonesia (persero) mendorong perdagangan komoditas lada melalui kerja sama strategis dengan Bursa Berjangka Jakarta dan PT Wahana Inspirindo Sejahtera.

Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia Fajar Wibhiyadi mengatakan bahwa sebagai penghasil lada terbesar kedua di dunia, Indonesia memerlukan langkah strategis dari para stake holder, tidak hanya untuk menjaga kestabilan harga, tetapi juga untuk memaksimalkan nilai komoditas lada.

Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS), produksi lada Indonesia selalu mencatatkan pertumbuhan cukup baik dari 2015 hingga 2019. Pada 2015, produksi lada mencapai 81.501 ton, dan meningkat sebesar 5,93% menjadi 86.334 ton pada 2016.

Kemudian pada 2017, produksi mencapai 87.991 ton, atau  mengalami peningkatan sebesar 1,92%. Pada 2018, peningkatan hanya naik sebesar 0,82% dengan total produksi mencapai 88.719 ton. Sementara itu, pada 2019, diproyeksikan produksi akan mencapai 89.617 ton, atau meningkat sebesar 1,07% dibandingkan dengan 2018.

Kendati demikian, peningkatan produksi lada nasional tersebut justru berbanding terbalik dengan harga lada di pasaran. Berdasarkan data yang dirilis oleh Direktorat Jenderal Perkebunan, harga lada mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

Tercatat, pada 2016, harga rata-rata bulanan di pasar domestik untuk lada putih adalah Rp143.867 per kilogram dan Rp121.000 per kilogram untuk lada hitam. Penurunan tajam terjadi pada 2017, ketika harga rata-rata bulanan untuk lada putih mencapai Rp85.349 dan Rp 59.500 untuk lada hitam.

“Kerja sama dengan BBJ dan PT Wahana Inspirindo tentu merupakan sebuah sinergi strategis, yang ke depan diharapkan menjadi solusi atas problem klasik yang dihadapi petani dan pemilik komoditas lada, khususnya terkait harga dan nilai komoditas,” ujar Fajar seperti dikutip dari keterangan resmi yang diterima Bisnis, Sabtu (23/11/2019).

Adapun, penandatangan nota kesepahaman tersebut juga dihadiri oleh Donny Raymond, Direktur Bursa Berjangka Jakarta, dan Dede Iswanto, Direktur PT Wahana Inspirindo Sejahtera, yang disaksikan oleh Himawan Purwadi, Kepala Bagian Penguatan dan Pengawasan Pasar lelang komoditas Bappebti, di Pangkal Pinang, Jumat (22/11/2019). 

Berbentuk Pasar Fisik

Dalam kerja sama ini, ke depan komoditas lada akan diperdagangkan dalam bentuk pasar fisik di Bursa Berjangka Jakarta, dan PT KBI akan bertindak sebagai lembaga Kliring dan Penjaminan Transaksi. Artinya, tata niaga lada tidak langsung dari petani ke pengumpul, tetapi diarahkan untuk diperdagangkan dalam bentuk Pasar Fisik Lada di Bursa.

Adapun, PT Wahana Inspirindo Sejahtera nantinya akan menyediakan sarana dan prasarana komoditas lada dalam hal ini, lada merek Muntok White Pepper (WMP).

Selain itu, PT KBI juga akan mendorong petani dan pemilik komoditas lada untuk memanfaatkan Sistem Resi Gudang.

 Berdasarkan data PT KBI, sepanjang 2017 hingga Oktober 2019 jumlah resi gudang yang diterbitkan untuk komoditas lada hanya mencapai Rp566 juta, dari total penerbitan keseluruhan resi gudang sebesar Rp114,6 miliar.

 “Besaran resi gudang yang ada tersebut, masih sangat kecil. Apalagi dengan melihat kapasitas produksi lada putih Bangka Belitung atau Muntok White Pepper cukup bersar,” papar Fajar.

Kedepan pihaknya optimistis, dengan masuknya lada putih muntok ke pasar fisik di Bursa Berjangka Jakarta, akan memberikan nilai tambah tidak hanya bagi petani, tetapi juga bagi perekonomian nasional.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bbj bursa berjangka lada
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top