Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Jokowi Larang Ekspor Timah 2023, Bos BBJ Hitung Dampaknya

Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta masih mengkaji terkait rencana larangan ekspor komoditi mineral timah yang sedang digodok pemerintah.
Tumpukan timah batangan. /kliring berjangka Indonesia
Tumpukan timah batangan. /kliring berjangka Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) sebagai mitra bursa pasar fisik komoditi mineral timah masih menganalisa mengenai dampak larangan ekspor timah yang sedang digodok pemerintah.

BJJ sendiri telah mencatatkan volume ekspor sampai dengan September 2022 mencapai 35.595 ton timah atau setara 7.119 lot.

Stehpanus Paulus Lumintang, Direktur utama PT Bursa Berjangka Jakarta, mengatakan pihaknya membutuhkan waktu untuk berdiskusi dan menganalisa situasi sebelum menyampaikan pendapat.

“Saya sih belum berani berkomentar untuk itu ya karena kami hanya menyediakan ini mungkin lebih tepatnya ke para pelaku eksportir dan importir,” kata Paulus menjawab pertanyaan Bisnis, di Cyber 2 Tower, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (7/10/2022).

Mengenai pelarangan ekspor mineral timah telah disampaikan Jokowi pada September lalu. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan terkait rencana larangan ekspor yang disampaikan Jokowi masih dalam tahap evaluasi sebelum benar-benar dijalankan pada tahun mendatang.

Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bangka Belitung merilis data ekspor timah pada Agustus 2022 meroket sebesar 72,70 persen mencapai nilai USD144,03 dibandingkan bulan sebelumnya. Secara keseluruhan sepanjang tahun kenaikan volume ekspor mencapai 87,45 persen.

Disisi lain, Ekonom Josua Pardede mengatakan jika rencana kebijakan yang akan diambil pemerintah ini akan berdampak positif dalam mendorong sustainability dari aktivitas ekspor timah.

“Mendorong peningkatan nilai tambah dari ekspor komoditas kita sendiri karena kalau kita selalu bergantung pada komoditas mentah nilai tambahnya masih kecil, tapi kalau kita bisa meningkatkan ingatan Itu ya dari biji timah bisa menjadi produk dengan nilai tambah lebih besar,” kata Josua kepada bisnis, Jumat (7/10/2022)

Bahan mentah yang sebelumnya telah dilarang ekspornya adalah bijih nikel. Sebelum ekspor nikel mentah dihentikan, pendapatan ekspor nikel mentah setiap tahun hanya USD 1,1 miliar atau sekitar Rp 15 triliun per tahun. Namun, setelah ekspor nikel mentah dihentikan, pendapatan dari ekspor komoditas tersebut melonjak menjadi USD 20,9 miliar setara Rp 360 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Maria Artha
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper