Setelah Pelantikan Presiden, Kucuran Dana Asing Diproyeksi Kembali Mengalir ke Pasar Saham

Pelaku pasar diharapkan tetap waspada karena saat ini investor asing terhadap pasar Indonesia tidak berada di posisi overweight.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 17 Oktober 2019  |  15:40 WIB
Setelah Pelantikan Presiden, Kucuran Dana Asing Diproyeksi Kembali Mengalir ke Pasar Saham
Karyawan melintas di dekat layar penunjuk pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (12/6/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA—Kepastian politik lewat pelantikan kabinet pada bulan ini diharapkan kembali menarik minat investor asing untuk berinvestasi di pasar modal Tanah Air.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, investor asing terpantau telah keluar dari pasar saham Indonesia sekitar Rp24,06 triliun dalam tiga bulan terakhir.

Kendati sepanjang tahun berjalan (year-to-date) masih tercatat aksi beli bersih (net buy) dari investor asing senilai Rp49,45 triliun, nilai tersebut perlu dikurangi dengan aksi crossing saham oleh MUFG Bank Ltd. terhadap PT danamon Indonesia Tbk. (BDMN) dan PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk. dengan nilai transaksi nontunai senilai Rp49,62 trliun.

Dengan demikian, sejak awal tahun justru terjadi aliran modal keluar asing (foreign capital outflow) sekitar Rp0,17 triliun.

Thendra Crisnanda, Head of Research Institusi MNC Sekuritas, menjelaskan bahwa kombinasi sentimen negatif dari global maupun domestik menjadi penyebab kaburnya investor asing dari pasar modal Indonesia.

“Tetapi memang ketidakpastian global lebih mendominasi sehingga cenderung investor asing keluar di tengah penantian pelantikan Presiden Indonesia pada 20 Oktober 2019,” kata Thendra kepada Bisnis, Rabu (16/10/2019).

Dirinya menjelaskan, susunan kabinet dari pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin nanti dapat menjadi salah satu katalis positif untuk menarik kembali minat investor asing, apalagi apabila susunan menteri nantinya merupakan tokoh-tokoh yang pro-pasar.

Selain itu, peluang terjadinya window dressing pada akhir tahun ini juga diharapkan membawa kembali masuk dana asing ke pasar modal.

Thendra memaparkan secara siklus pada kuartal terakhir setiap tahun biasanya pendapatan emiten akan dirilis lebih baik dibandingkan dengan pencapaian pada periode Januari—Juni.

Berikutnya, valuasi blue chip yang tertekan cukup signifikan selama beberapa bulan terakhir nantinya juga berpotensi diakumulasikan lagi oleh investor karena sudah relatif menarik.

REBALANCING MSCI

Sementara itu, dengan adanya momentum rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada November, diperkirakan turut mempengaruhi bobot Indonesia.

Menurut Thendra, rebalancing indeks MSCI ini tidak serta merta bakal dipengaruhi oleh faktor domestik, tetapi lebih disebabkan oleh adanya perebutan likuiditas global pascarencana liberalisasi sektor keuangan di China.

Belum lagi penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) dari beberapa perusahaan global yang memiliki kapitalisasi pasar besar juga dapat berpotensi menurunkan bobot atau weight Indonesia.

“Salah satu indikator yang ditunggu adalah peningkatan FDI [foreign direct investment]. Rebalancing MSCI ke depan tidak hanya serta merta dipengaruhi oleh faktor domestik semata,” tutur Thendra.

Irwanti, Direktur & Fund Manager Schroders Indonesia, menilai pada kuartal terakhir ini masih ada peluang masuknya aliran modal asing (foreign capital inflow) karena selama setahun terakhir tercatat investor asing melakukan net sell senilai US$516 juta dari pasar saham Tanah Air.

Namun demikian, pelaku pasar diharapkan tetap waspada karena saat ini investor asing terhadap pasar Indonesia tidak berada di posisi overweight.

“Kita harus menghadapi potensi outflow dari [sentimen] rebalancing indeks MSCI yang akan terjadi pada November dengan estimasi mencapai US$26 juta,” ungkap Irwanti.

Adapun menurutnya dari sisi domestik nantinya yang akan menentukan kinerja pasar saham pada kuartal IV/201 ini akan berasal dari hasil laporan keuangan emiten pada kuartal III/2019 serta persepsi pelaku pasar terhadap susunan kabinet yang diumumkan bulan ini.

Apabila hasilnya sesuai dengan harapan, peluang bagi IHSG untuk rebound pun tak dapat dipungkiri. Apalagi, saat ini valuasi saham sudah cukup murah apabila dibandingkan dengan valuasi rasio harga per laba (price to earnings ratio/PER) secara historikal.

“Perkembangan dari negosiasi antara AS dan China juga masih menjadi faktor utama pertumbuhan IHSG untuk ke depan,” imbuh Irwanti.

Pada akhir perdagangan Rabu (16/10/2019), IHSG ditutup menguat 0,19% ke level 6.169. Dari awal tahun, indeks melemah 0,40% sementara sejak 3 bulan terakhir telah jatuh 3,52%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
saham, pasar modal

Editor : Ana Noviani
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top