Brasil & Vietnam Makin Dominan di Pasar Kopi, Apa yang Harus Dilakukan Negara Penghasil Lain?

Pasar kopi premium menawarkan keuntungan yang lebih besar.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 26 September 2019  |  12:20 WIB
Brasil & Vietnam Makin Dominan di Pasar Kopi, Apa yang Harus Dilakukan Negara Penghasil Lain?
Petani memanen kopi arabika di Desa Mekarmanik, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (20/6/2019). - ANTARA/Raisan Al Farisi

Bisnis.com, JAKARTA – Seiring dengan makin kuatnya dominasi Brasil dan Vietnam di pasar kopi global, negara-negara produsen kopi lainnya dinilai berpeluang menggarap pasar kelas atas.

Pasar kelas atas diakui lebih kecil, tapi menawarkan keuntungan yang lebih besar bagi para produsen kecil, seperti yang berasal dari Amerika Tengah dan Afrika. Mereka bisa bermain di pasar premium dengan menghasilkan biji kopi berkualitas tinggi.

Sementara itu, para petani kopi Brasil dan Vietnam masih dapat meraih profit, bahkan ketika harga komoditas ini mendekati level terendah dalam 10 tahun terakhir.

"Produksi mungkin menjadi lebih terkonsentrasi di produsen berbiaya rendah, sementara negara-negara kecil lainnya mungkin terpaksa memposisikan diri di segmen fine arabica," papar Chairman Illycaffe SpA Andrea Illy seperti dilansir Bloomberg, Kamis (26/9/2019).

Perusahaan yang berbasis di Trieste, Italia itu telah mengadopsi kebijakan penetapan harga bagi para petani. Kebijakan itu mencakup kenaikan harga beli rata-rata 30 persen untuk kopi berkualitas tinggi dan harga minimum untuk menjamin pendapatan para pemasok.

Illycaffe merupakan salah satu merek yang paling dikenal dalam dunia kopi internasional. Mereka turut serta dalam deklarasi tentang keberlanjutan keekonomian kopi seiring dengan fluktuatifnya harga, yang dapat berpengaruh terhadap kesejahteraan petani.

“Secara umum, kami melihat harga rendah berdampak pada kualitas, karena petani biasanya memotong penggunaan pupuk dan perawatan panen,” tutur Illy.

Di sisi lain, perusahaan tersebut berencana memperluas jaringannya di AS. Hal itu kemungkinan dilakukan lewat kemitraan dengan perusahaan ritel.

Opsi lainnya adalah bermitra dengan brand mewah atau department store atau dengan perusahaan real estat komersial.

"Mitra ini juga harus menjadi pihak yang bergabung dengan ekspansi jaringan toko Illy di luar AS, termasuk di Asia," tambahnya.

Sementara itu, harga kopi arabika di Intecontinental Exchange (ICE) ditutup menguat 1,82 persen atau 1,8 poin ke posisi US$100,95 sen per pon, Rabu (25/9).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kopi

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top