Harga Minyak Masih Terpengaruh Efek Pergantian Menteri Energi Saudi

Seperti dikutip Reuters, Brent naik 26 poin atau 0,4%, pada US$62,85 per barel pada 10:49 WIB.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 10 September 2019  |  13:51 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak berjangka mencapai level tertinggi dalam 6 minggu pada Selasa (10/9/2019). Minyak naik untuk hari kelima di tengah optimisme OPEC dan negara-negara lain bakal memperpanjang pengurangan produksi dalam upaya menaikkan harga.

Seperti dikutip Reuters, Brent naik 26 poin atau 0,4%, pada US$62,85 per barel pada 10:49 WIB, sementara minyak mentah West Texas Intermediate mencapai 27 sen atau 0,5%, lebih tinggi pada level US$58,12 per barel. Brent menyentuh level tertinggi sejak 1 Agustus, sedangkan minyak mentah AS naik ke level tertinggi sejak 31 Juli.

Minyak AS naik lebih dari 2% pada Senin (9/9/2019), sedangkan Brent ditutup naik 1,7% karena pasar bereaksi terhadap penunjukkan Pangeran Abdulaziz bin Salman sebagai Menteri Energi Saudi pada Minggu (8/9/2019).

Pangeran Abdulaziz, anggota lama delegasi Saudi untuk Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), mengatakan pilar kebijakan Arab Saudi tidak akan berubah dan kesepakatan global untuk memotong produksi minyak sebesar 1,2 juta barel per hari akan terjaga.

Dia menambahkan bahwa apa yang disebut aliansi OPEC +, yang terdiri dari negara-negara OPEC dan non-OPEC termasuk Rusia, akan berlaku untuk jangka panjang.

Stephen Innes, ahli strategi pasar Asia Pasifik di AxiTrader, mengatakan pertemuan negara-negara OPEC dan OPEC + di Abu Dhabi minggu ini membangkitkan harapan untuk pengurangan pasokan tambahan.

Namun, produksi minyak Rusia pada Agustus melebihi kuota berdasarkan perjanjian OPEC +.

"Pasar perlu melihat kemajuan nyata di bagian depan produksi, bahkan ketika ekonomi dunia melambat, untuk mempertahankan kenaikan," kata Jeffrey Halley, analis pasar senior di OANDA.

Jika minyak berakhir pada Selasa lebih tinggi dari hari sebelumnya, itu akan menjadi kenaikan terpanjang sejak akhir Juli, tetapi sentimen negatif tetap terjaga karena perang perdagangan AS-China terus berlanjut.

Para eksekutif di Konferensi Perminyakan Asia Pasifik tahunan mengatakan pada Senin (9/9) bahwa mereka memperkirakan harga minyak tahun ini akan ditekan oleh ketidakpastian seputar ekonomi global, perang perdagangan AS-China dan meningkatnya pasokan AS.

Di Amerika Serikat, stok minyak mentah kemungkinan telah jatuh untuk minggu keempat berturut-turut minggu lalu, sebuah jajak pendapat Reuters pendahuluan menunjukkan pada Senin (9/9/2019).

Lima analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan, rata-rata, bahwa persediaan minyak mentah turun 2,6 juta barel dalam sepekan ke 6 September.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top