Harga Minyak Stabil, Tapi Rawan Jatuh

Harga minyak bergerak stabil pada Jumat (6/9/2019), di tengah meredanya ketegangan perang dagang antara China dan Amerika Serikat.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 07 September 2019  |  08:44 WIB
Harga Minyak Stabil, Tapi Rawan Jatuh
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak bergerak stabil pada Jumat (6/9/2019), di tengah meredanya ketegangan perang dagang antara China dan Amerika Serikat.

Data Bloomberg menunjukkan, hingga pukul 16:04 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah tipis 0,12% atau 0,07 poin ke posisi US$56,23 per barel, sedangkan harga minyak mentah Brent tetap 0,00% atau 0,00 poin ke posisi US$60,95 per barel.

Sehari sebelumnya, Kamis (5/9), China dan Washington sepakat untuk menghelat perundingan tingkat tinggi pada awal Oktober mendatang di Washington, AS. Lantaran kabar tersebut, para investor menyambut baik iktikad baik dua ekonomi terbesar dunia tersebut, mengingat perang yang berlarut-larut telah mencukur pertumbuhan ekonomi global.

Bagi sektor energi, perselisihan yang tak kunjung usai tersebut juga berdampak pada penurunan pada harga minyak. Meskipun demikian, harga komoditas tersebut telah meningkat dari tahun ke tahun, dibantu oleh pengurangan produksi yang dipimpin oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya Rusia untuk mengeringkan persediaan.

Giovanni Staunovo, analis minyak untuk UBS, dalam sebuah catatan yang menganalisis tren pasar minyak 2020, mengatakan, jika tensi perang dagang meningkat lebih lanjut, maka pertumbuhan minyak bisa melunak lebih banyak lagi.

"Di sisi lain, gangguan pasokan yang tidak terduga di Timur Tengah atau penurunan produksi yang mengejutkan oleh OPEC dan sekutunya dapat mendorong harga minyak lebih tinggi,” katanya dilansir dari Reuters, Jumat (6/9/2019).

Sementara itu, Energy Information Administration melaporkan, persediaan minyak mentah AS dan produk turunannya jatuh pada pekan lalu. Stok minyak mentah turun 4,8 juta barel, hampir dua kali lipat ekspektasi analis, menjadi 423 juta barel, terendah sejak Oktober 2018.

Harga minyak sempat melonjak lebih dari 2% pada Kamis (5/9), meskipun secara bertahap harga acuan tersebut memangkas keuntungan karena investor tidak sepenuhnya yakin bahwa pembicaraan perdagangan China dan AS bakal membuahkan hasil.

Sinyal lain dari kemungkinan perlambatan ekonomi global, data yang dirilis pada Jumat (6/9) menunjukkan, produksi industri Jerman secara tak terduga turun pada Juli, menempatkan ekonomi terbesar Eropa itu pada risiko jatuh ke dalam resesi pada kuartal ketiga.

Pasar Eropa tergelincir dari level tertinggi satu bulan. Suasana optimis yang dibawa oleh kemajuan menuju pembicaraan perdagangan AS-China tampaknya memudar karena pasar menunggu data pekerjaan AS nanti pada Jumat (6/9) waktu setempat.  

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak, Harga Minyak

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top