Bijih Besi Akan Keluar dari Jeratan Aksi Jual

Sepanjang tahun berjalan, harga bijih besi di bursa berjangka Singapura telah bergerak menguat 32,86%.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 14 Agustus 2019  |  17:40 WIB
Bijih Besi Akan Keluar dari Jeratan Aksi Jual
Ilustrasi - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Bijih besi diproyeksikan akan segera pulih dari aksi jual tajamnya dalam beberapa perdagangan terakhir dan akan melonjak ke atas US$100 per ton dalam 3 bulan ke depan.

Goldman Sachs Group mengatakan dalam risetnya bahwa pihaknya telah meningkatkan target harga bijih besinya didorong oleh sentimen defisit pasokan global yang akan terus terjadi sehinga volatilitas pasar ditetapkan untuk tinggi.

Goldman memperkirakan harga akan bergerak lebih tinggi dalam beberapa bulan ke depan dengan potensi lonjakan kembali ke US$115 per ton atau bahkan akan bergerak lebih tinggi.

“Runtuhnya harga bijih besi baru-baru ini hanyalah sebuah bantuan sementara dari defisit struktural dan bukan sebuah kejatuhan harga yang akan bertahan lama," tulis Goldman Sachs dalam risetnya seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (14/8/2019).

Goldman Sachs meningkatkan target harga bijih besinya untuk 3 bulan, 6 bulan, dan 12 ke depan menjadi US$115 per ton, US$100 per ton, dan US$85 per ton, dari target sebelumnya sebesar US$91 per ton, US$80 per ton, dan US$72 per ton.

Dengan pasar yang tengah berada dalam kondisi defisit, Goldman Sach menilai harga seharusnya bergerak menguat untuk menghasilkan respons penawaran yang cukup atau untuk mengantisipasi permintaan yang lemah agar mencapai keseimbangan pasar.

"Kita tidak bisa mengabaikan tanda-tanda pertumbuhan permintaan global yang lebih lemah," tulis Goldman, mengutip tanda-tanda termasuk data ekonomi Jerman yang lebih buruk dari perkiraan dan pertumbuhan permintaan minyak yang lebih lambat.

Di sisi lain, di saat Goldman memproyeksikan harga bijih besi berpotensi rebound, Perkiraan tersebut bertentangan dengan target yang ditetapkan oleh perusahaan keuangan internasional lainnya.

Fitch Solutions mengatakan bahwa harga akan turun lebih rendah selama sisa tahun ini karena masalah pasokan mereda dan permintaan China melunak.

Kemudian, Morgan Stanley memperkirakan bahwa harga akan merosot ke level US$90 per ton pada kuartal terakhir tahun ini, sedangkan Capital Economics Ltd mengatakan bahwa pihaknya memperkirakan bijih besi akan turun lebih lanjut dipicu perlambatan ekonomi China termasuk sektor konstruksi.

Adapun, aksi jual besar-besaran pada bijih besi dalam beberapa perdagangan terakhir didukung oleh sejumlah data yang menunjukkan bahwa meningkatnya pasokan di China sehingga menurunkan profitabilitas pabrik di China.

Harga bijih besi berjangka di bursa Singapura, kehilangan 14% pada bulan lalu dan 10% sepanjang pekan lalu, setelah menyentuh level puncak sejak 5 tahun sebesar US$119,18 per ton pada bulan lalu. Mayoritas investor bertaruh bahwa tekanan pasokan akan berkurang seiring dengan tingkat permintaan yang melunak.

Namun demikian, berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (14/8/2019) hingga pukul 14.30 WIB, harga bijih besi di bursa Singapura berhasil bergerak menguat 2,34% menjadi US$88,83 per ton. Adapun, sepanjang tahun berjalan, bijih besi telah bergerak menguat 32,86%.

Sebagai perbandingan, harga bijih besi di bursa Dalian menguat 1,44% menjadi 636 yuan per ton pada perdagangan hari ini.

Penguatan tersebut didukung oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyetujui untuk menunda pengenaan beberapa tarif impor China yang semula dijadwalkan berlaku pada 1 September 2019.

Komentar tersebut menandakan bahwa sikap AS telah cenderung melunak sehingga membantu meredakan kekhawatiran investor terhadap eskalasi perdagangan antara AS dan China yang akan menurunkan pertumbuhan ekonomi global.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bijih besi, komoditas

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top