Kurs Jisdor Melemah, BI Siap Bendung Efek Gejolak Argentina dan Hong Kong

Kurs rupiah menyentuh posisi Rp14.283 per dolar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, Selasa (13/8/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 13 Agustus 2019  |  10:36 WIB
Kurs Jisdor Melemah, BI Siap Bendung Efek Gejolak Argentina dan Hong Kong
Nasabah menghitung uang di sebuah Money Changer, di Jakarta, Rabu (12/6/2019). - Bisnis/Himawan L. Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Kurs rupiah menyentuh posisi Rp14.283 per dolar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, Selasa (13/8/2019).

Data yang diterbitkan Bank Indonesia pagi ini menempatkan kurs referensi Jisdor di level Rp14.283 per dolar AS, melemah 63 poin atau 0,44 persen dari posisi Rp14.220 pada Senin (12/8).

Adapun berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot terpantau melemah 33 poin atau 0,23 persen ke level Rp14.283 per dolar AS pada pukul 10.00 WIB dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Senin (12/8), rupiah ditutup terdepresiasi 0,39 persen atau 56 poin di level Rp14.250 per dolar AS. Mata uang Garuda ini mulai melanjutkan pelemahannya dengan dibuka terdepresiasi 0,13 persen atau 18 poin di level Rp14.268 per dolar AS.

Sepanjang perdagangan pagi ini, rupiah bergerak di kisaran Rp14.268-Rp14.285 per dolar AS.

Dilansir dari Bloomberg, rupiah melemah untuk hari kedua berturut-turut akibat terbebani aksi penghindaran aset berisiko di tengah tensi perdagangan global dan geopolitik.

Selain karena isu perdagangan AS-China, daya tarik aset berisiko semakin tergerus oleh memanasnya aksi unjuk rasa di Hong Kong. Pada Senin (12/8/2019), bandara internasional negara ini ditutup untuk penerbangan selama beberapa jam setelah ribuan demonstran mengepungnya.

Sementara itu, hasil pemilihan pendahuluan di Argentina yang menempatkan pihak oposisi sebagai unggulan, mengakibatkan jatuhnya nilai tukar mata uang peso, bursa saham, dan obligasi negara itu.

“Aksi penghindaran risiko dari Argentina telah mendorong aksi jual eksposur berisiko tinggi, termasuk rupiah, rupee India, dan peso Filipina,” ujar Wisnu Varathan, kepala bidang ekonomi dan strategi di Mizuho Bank Ltd.

“Kami memperkirakan rupiah akan menguji ke atas level 14.500 terhadap dolar AS,” tambahnya.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah mengatakan BI siap untuk melakukan intervensi dalam pasar obligasi, valas, dan NDF demi membendung penghindaran risiko yang dipicu kekhawatiran akan krisis keuangan di Argentina dan risiko politik di Hong Kong.

“BI berkomitmen untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Nanang, dikutip dari Bloomberg.

Seiring dengan melemahnya nilai tukar rupiah, indeks dolar Amerika Serikat (AS) yang melacak pergerakan mata uang dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia, terpantau menguat 0,209 poin atau 0,21 persen ke level 97,589 pada pukul 09.51 WIB, setelah dibuka dengan kenaikan 0,1 persen di posisi 97,479.

Pada perdagangan Senin (12/8/2019) indeks berakhir di zona merah dengan pelemahan 0,11 persen atau 0,111 poin di level 97,380.

Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor/Rupiah)

Tanggal

Kurs

13 Agustus

14.283

12 Agustus

14.220

9 Agustus

14.195

8 Agustus

14.231

7 Agustus

14.275

Sumber: Bank Indonesia

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah, jisdor

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top