Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Permintaan Minyak Global Diperkirakan Loyo, ini Alasannya

Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperkirakan, permintaan minyak global pada tahun ini tumbuh pada laju terlambat sejak krisis keuangan 2008, seiring menguatnya tanda-tanda pelemahan global dan meningkatnya perang dagang, antara Amerika Serikat dan China.
Harga Minyak WTI/Reuters
Harga Minyak WTI/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperkirakan, permintaan minyak global pada tahun ini tumbuh pada laju terlambat sejak krisis keuangan 2008, seiring menguatnya tanda-tanda pelemahan global dan meningkatnya perang dagang, antara Amerika Serikat dan China.

“Situasi [pasar] tidak pasti. Pertumbuhan minyak global sangat lambat pada paruh pertama 2019,” kata IEA dalam laporan bulanannya, Jumat (9/8/2019) seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (10/8/2019).

Badan yang berbasis di Paris tersebut menyatakan,  dibandingkan dengan bulan yang sama pada 2018, permintaan global turun 160.000 barel per hari (bph) pada Mei tahun ini. Hal tersebut memperlihatkan penurunan tahun ke tahun kedua pada tahun ini.

Dari Januari hingga Mei, permintaan minyak meningkat sebesar 520.000 barel per hari, menandai kenaikan terendah untuk periode tersebut sejak 2008.

Badan tersebut menyebut China sebagai satu-satunya sumber utama pertumbuhan sebesar 500.000 barel per hari untuk paruh pertama tahun ini. Sementara, permintaan pertumbuhan di Amerika Serikat dan India hanya 100.000 bph dari Januari hingga Juni tahun ini.

Menurut IEA, prospek untuk kesepakatan politik antara China dan Amerika Serikat tentang perdagangan telah memburuk. Hal ini dapat menyebabkan berkurangnya aktivitas perdagangan dan berkurangnya pertumbuhan permintaan minyak.

Selain itu, EIA juga menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan global untuk 2019 dan 2020 menjadi masing-masing 1,1 juta dan 1,3 juta barel per hari.

"Prospeknya rapuh dengan kemungkinan lebih besar untuk revisi ke arah penurunan dibandingkan penguatan,” kata laporan tersebut.

Di sisi lain, pengurangan pasokan oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) dan sekutunya, telah memperketat pasar minyak, dibantu oleh produksi non-OPEC yang lebih lambat.

Namun, EIA menilai bahwa keseimbangan akan bersifat sementara karena memperkirakan pertumbuhan produksi non-OPEC yang kuat pada 2020 sebesar 2,2 juta barel per hari. Hal ini menunjukkan pasar minyak global akan dipasok dengan baik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dika Irawan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper