Ringkasan Perdagangan 9 Agustus: IHSG & Rupiah Berakhir Manis, Dolar Ringkih

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil memperpanjang penguatannya bersama nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) untuk hari ketiga berturut-turut, meskipun dihantui sentimen data defisit transaksi berjalan.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 09 Agustus 2019  |  20:07 WIB
Ringkasan Perdagangan 9 Agustus: IHSG & Rupiah Berakhir Manis, Dolar Ringkih
Pengunjung beraktivitas di dekat papan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (2/7/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil memperpanjang penguatannya bersama nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) untuk hari ketiga berturut-turut, meskipun dihantui sentimen data defisit transaksi berjalan.

Seiring dengan penguatan IHSG, bursa Asia secara keseluruhan mampu menguat di tengah kekhawatiran soal meningkatnya tensi dagang AS dan China.

Berikut adalah ringkasan perdagangan di pasar saham, mata uang, dan komoditas yang dirangkum Bisnis.com, Jumat (9/8/2019):

IHSG Mampu Akhiri Pekan Berbalik Hijau Setelah Babak Belur

IHSG terpantau parkir di zona hijau dengan penguatan 0,12 persen ke level 6.282 pada akhir perdagangan hari ini. Selama sepekan indeks melemah 0,92 persen sementara sepanjang tahun berjalan tumbuh 1,41 persen.

Saham sektor pertanian dan pertambangan menopang pergerakan indeks yang masing-masing tumbuh 1,67 persen dan 1,36 persen.

Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi menjelaskan, rilis data defisit neraca berjalan (current account deficit/CAD) yang lebih tinggi dari perkiraan menjadi penahan penguatan indeks yang sempat menyentuh level tertingginya sebesar 6.319 sepanjang hari perdagangan.

Rupiah Terus Hantam Dolar AS, Kurs Asia Masih Rentan Perang Dagang

Rupiah terus memperlihatkan keperkasaannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan hari ketiga berturut-turut.

Sementara itu, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama terpantau lanjut terkoreksi 0,081 poin atau 0,08 persen ke level 97,537 pada pukul 18.33 WIB dari level akhir perdagangan Kamis (8/8).

Dilansir dari Reuters, dolar AS melemah terhadap yen Jepang di tengah kekhawatiran baru tentang sengketa perdagangan AS-China. Gedung Putih dilaporkan menunda keputusan untuk mengizinkan perusahaan-perusahaan AS melakukan bisnis dengan Huawei Technologies.

Meningkatnya ketidakpastian tentang perselisihan antara AS dan China kemungkinan akan terus mendukung aset-aset safe haven, seperti yen dan emas, sekaligus menggerus minat investor terhadap aset berisiko.

Pergerakan Harga Emas

Harga emas Comex untuk kontrak Desember 2019 terpantau menguat 5,70 poin atau 0,38 persen ke level US$1.515,20 per troy ounce pukul 18.33 WIB.

Di dalam negeri, harga emas batangan Antam berdasarkan daftar harga emas untuk Butik LM Pulogadung Jakarta turun tipis sebesar Rp1.000 menjadi Rp752.000 per gram. Harga pembelian kembali atau buyback emas Antam ikut turun Rp1.000 menjadi Rp678.000 per gram.

Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger mengatakan bahwa terdapat banyak alasan mendasar di balik kekuatan emas sehingga menambah ekstensi harga emas ke atas US$1.500 per troy ounce dan menjadikan emas sebagai bintang pertunjukan.

Seperti yang diketahui, dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia, AS dan China, telah terkunci dalam pergolakan perdagangan yang pahit sejak setahun lalu.

Perkembangan terkini, Gedung Putih dikabarkan menunda keputusan mengenai perizinan bagi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat untuk memulai kembali bisnis mereka dengan Huawei Technologies. Langkah itu diambil setelah pemerintah China menyatakan menghentikan pembelian barang-barang pertanian dari AS.

Permintaan Minyak 2019 Diproyeksi yang Terendah Sejak Krisis Keuangan 2008

International Energy Agency (IEA) memperingatkan adanya prospek perlambatan permintaan minyak dunia pada 2019, yang dikhawatirkan menjadi laju permintaan terlemah sejak krisis keuangan 2008.

Berdasarkan laporan bulanan IEA, seperti dilansir dari Bloomberg, jumlah permintaan minyak dunia hanya tumbuh 520.000 barel per hari sepanjang Januari-Mei 2019. Angka tersebut hanya separuh dari jumlah permintaan minyak dunia pada periode yang sama tahun lalu dan merupakan yang terendah sejak 2008.

IEA mengatakan bahwa situasi pasar menjadi semakin tidak pasti seiring dengan konflik perdagangan AS-China yang masih belum terselesaikan dan tarif impor baru yang akan dikenakan pada September 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah, Harga Emas Hari Ini

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top