IHSG Mampu Akhiri Pekan Berbalik Hijau Setelah Babak Belur

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu mengakhiri pekan ini dengan penguatan setelah ‘babak belur’ pada awal pekan.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 09 Agustus 2019  |  18:12 WIB
IHSG Mampu Akhiri Pekan Berbalik Hijau Setelah Babak Belur
Karyawan berada di depan papan elektronik yang menampilkan harga saham di Jakarta, Senin (22/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu mengakhiri pekan ini dengan penguatan setelah ‘babak belur’ pada awal pekan.

IHSG terpantau parkir di zona hijau dengan penguatan 0,12 persen ke level 6.282 pada akhir perdagangan Jumat (9/8/2019). Selama sepekan indeks melemah 0,92 persen sementara sepanjang tahun berjalan tumbuh 1,41 persen.

Adapun saham sektor pertanian dan pertambangan menopang pergerakan indeks yang masing-masing tumbuh 1,67 persen dan 1,36 persen.

Investor asing pun tercatat melakukan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp63,84 miliar dengan rupiah menguat ke level Rp14.194 per dolar AS.

Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi menjelaskan, rilis data defisit neraca berjalan (current account deficit/CAD) yang lebih tinggi dari perkiraan menjadi penahan penguatan indeks yang sempat menyentuh level tertingginya sebesar 6.319 sepanjang hari perdagangan.

“Naiknya defisit dalam akun lancar memberikan kekhawatiran investor terhadap pencapaian target CAD pemerintah yang berada dibawah 2,5 persen—3 persen dari PDB tahun ini,” tulis Lanjar dalam riset harian, Jumat (9/8/2019).

Adapun, defisit neraca berjalan Indonesia dirilis naik ke level US$8,4 miliar atau setara 2,8 persen dari PDB dibandingkan US$7 miliar pada periode sebelumnya.

Dari eksternal, ketegangan hubungan dagang antara AS dan China yang menekan sejumlah indeks secara global mulai diimbangi oleh sentimen positif dari Wall Street. Adapun, AS menunda keputusan perizinan bagi perusahaan AS untuk memulai kebijakan bisnis dengan Huawei Technologies.

Sementara itu, Presiden Direktur Sucorinvest Asset Management Jemmy Paul Wawointana sempat mengungkapkan bahwa indeks pada akhir tahun ini dapat menyentuh level 7.000.

“IHSG target akhir tahun 6.800—6.900, bisa menyentuh 7.000 tahun ini,” katanya.

Dirinya menjelaskan, selain akibat sentimen global, tekanan IHSG pada awal pekan ini terjadi karena sentimen kinerja emiten kuartal II/2019 yang tak memuaskan. Hal itu pun membuat target laba emiten dipangkas dari sekitar 11 persen—12 persen menjadi hanya 6 persen—7 persen.

Selain itu, ketidakpastian politik yang terjadi selama paruh pertama tahun ini juga telah membuat investor enggan berinvestasi (wait and see).

Namun demikian, dengan kepastian politik pada paruh ke dua tahun ini, diharapkan para pengusaha mulai merealisasikan rencana investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, pasar akan reli setelah mengetahui kabinet yang baru diisi oleh para tokoh yang diharapkan pasar nantinya. Adapun, pasar telah priced in nantinya sebanyak 50 persen dari kabinet akan diisi dari tokoh partai politik dan sisanya dari kalangan profesional.

Adapun, perkiraan optimistis dari manajer investasi yang mengelola dana sebesar Rp8,9 triliun tersebut juga didasari oleh potensi masuknya aliran modal asing ke pasar modal domestik.

Dirinya menjelaskan, selama 2—3 tahun terakhir, investor asing telah keluar dari Indonesia sekitar US$10 miliar dan diharapkan bisa masuk kembali dalam waktu setahun ke depan.

Selain itu, pada akhir tahun juga diperkirakan valuasi harga saham bakal menarik.

Jemmy menjelaskan, level 7.000 merupakan level rata-rata PE dan sedikit di bawah rata-rata PBV pasar Indonesia. Saat ini, IHSG sebesar 6.200 memiliki PE di kisaran 16 kali yang mana merupakan terendah sejak 2014 dan PBV terendah sejak 2015.

“Kalau [PBV] turun lagi dari level sekarang, itu terendah selama 10—12 tahun. Untuk investor saham, terutama yang value investing, itu pasti akan dicari yang namanya saham yang under value,” jelas Jemmy. 

SEKTOR MENARIK

Adapun, Jemmy memilih sektor manufaktur akan menarik pada paruh kedua tahun ini.

Pasalnya, di tengah terjadinya perang dagang antara AS—China, akan banyak relokasi pabrik dari China ke Indonesia.

Selain itu, aktivitas manufaktur pun dinilai bakal bergairah pada kuartal ini ditopang oleh stabilitas politik.

Salah satu katalis yang paling dekat, kata Jemmy, adalah rate take up dari lahan industri yang naik dalam 1—2 tahun terakhir. Sebelumnya, menjelang Pemilu 2019, tampaknya tak hanya pasar modal tetapi investasi juga telah wait and see sehingga akan mengambil posisi setelah kepastian politik terbentuk.

Dari sisi komoditas, Jemmy menilai emiten yang terkait dengan nikel juga menarik ditopang oleh komitmen pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai hub manufaktur mobil listrik (electric vehicle/EV).

Adapun, mobil listrik nantinya akan menggunakan baterai yang komponennya berasal dari nikel. Indonesia pun bakal diuntungkan karena merupakan salah satu produsen nikel terbesar di dunia.

Sebelumnya, MNC Sekuritas merekomedasikan saham sektor konsumer sebagai pilihan yang menarik saat ini. Pasalnya, saham sektor konsumer ditopang oleh valuasi dan kinerja keuangan yang solid pasca rebalancing, seperti HMSP, GGRM, ICBP, dan INDF.

Sementara untuk saham-saham komoditas yang berkaitan dengan emas juga direkomendasikan karena terus mengalami peningkatan signifikan ditopang oleh kenaikan harga emas yang menembus US$1.500 per troi ounce, seperti ANTM, HRTA, MDKA, dan PSAB.

*Meskipun demikian, kami menilai terdapat potensi koreksi yang wajar atas saham-saham emas pasca--rally yang terjadi saat ini, sebagai BUY opportunity ke depan," tulis MNC Sekuritas.

Trading opportunity juga dapat dilakukan di saham nickel, terutama INCO, karena dipercaya masih akan melanjutkan kenaikan tertopang oleh pengembangan EV (Electrical Vechicle) serta terus menurunnya pasokan nickel global saat ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, penggerak ihsg

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top