Rupiah Terus Hantam Dolar AS, Kurs Asia Masih Rentan Perang Dagang

Rupiah terus memperlihatkan keperkasaannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan hari ketiga berturut-turut, Jumat (9/8/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 09 Agustus 2019  |  19:37 WIB
Rupiah Terus Hantam Dolar AS, Kurs Asia Masih Rentan Perang Dagang
Transkasi penukaran uang rupiah di sebuah money changer di Jakarta, Selasa (4/9/2018). - Reuters/Willy Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA – Rupiah terus memperlihatkan keperkasaannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan hari ketiga berturut-turut, Jumat (9/8/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 19 poin atau 0,13 persen di level Rp14.194 per dolar AS dari level penutupan sebelumnya. Pada perdagangan Kamis (8/8/2019), rupiah berakhir terapresiasi 12 poin atau 0,08 persen di posisi 14.213.

Penguatan rupiah mulai berlanjut dengan dibuka terapresiasi tipis 8 poin atau 0,06 persen di level 14.205 pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di level Rp14.175 – Rp14.206 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama terpantau lanjut terkoreksi 0,081 poin atau 0,08 persen ke level 97,537 pada pukul 18.33 WIB dari level akhir perdagangan Kamis (8/8).

Pada perdagangan Kamis, indeks dolar mampu berakhir naik tipis 0,08 persen atau 0,074 poin di level 97,618. Indeks mulai tergelincir dari zona positif ketika dibuka turun tipis 0,046 poin atau 0,05 persen di posisi 97,572.

Dilansir dari Reuters, dolar AS melemah terhadap yen Jepang di tengah kekhawatiran baru tentang sengketa perdagangan AS-China. Gedung Putih dilaporkan menunda keputusan untuk mengizinkan perusahaan-perusahaan AS melakukan bisnis dengan Huawei Technologies.

Gedung Putih menunda keputusannya terhadap Huawei setelah China mengatakan akan menghentikan pembelian produk pertanian AS

Meningkatnya ketidakpastian tentang perselisihan antara AS dan China kemungkinan akan terus mendukung aset-aset safe haven, seperti yen dan emas, sekaligus menggerus minat investor terhadap aset berisiko.

“Berita tentang Huawei memicu kenaikan yen," kata Junichi Ishikawa, analis valas senior di IG Securities, seperti dikutip Reuters.

"Saham AS sedang mencoba untuk melakukan pemulihan, tetapi ini adalah pengingat bahwa sengketa perdagangan AS-Cina tetap berisiko, dan risiko ini tidak surut. Dalam keadaan ini, mudah bagi yen dan emas untuk naik lebih tinggi," lanjutnya.

Pedagang yen sebagian besar tidak terpengaruh oleh data yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi Jepang lebih dari yang diperkirakan pada kuartal II/2019, didorong konsumsi swasta dan investasi bisnis yang mengimbangi tekanan terhadap ekspor akibat lesunya permintaan global.

Bersama rupiah, mata uang lainnya di Asia mayoritas mampu menguat terhadap dolar AS, dipimpin peso Filipina yang ditutup menguat 0,34 persen ke level 51,910 per dolar AS dan yen Jepang yang lanjut naik 0,31 persen ke posisi 105,74 pukul 18.43 WIB.

Namun, sejumlah mata uang terpantau melemah di antaranya adalah yuan onshore China dan rupee India yang masing-masing terdepresiasi 0,2 persen dan 0,14 persen terhadap dolar AS.

“Kita sama sekali belum keluar dari kondisi yang berkaitan dengan kekhawatiran perdagangan antara China dan AS, dan perkembangan ini [penundaan keputusan lisensi Huawei] mungkin membenarkan pandangan itu,” ujar Nick Twidale, direktur dan co-founder X-Chainge, seperti dikutip dari Bloomberg.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top