Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Perkuat Bisnis Pakan Ternak, Central Proteina Prima (CPRO) Anggarkan Capex Rp95 Miliar

PT Central Proteina Prima (Persero) Tbk. (CPRO) menyiapkan belanja modal sebesar Rp95 miliar untuk memperkuat bisnis pakan ternak dan hewan peliharaan.
Presiden Direktur PT Central Proteina Prima Tbk Irwan Tirtariyadi (kanan) didampingi Wakil Presiden Direktur Saleh memberikan keterangan pada saat paparan publik, di Jakarta, Senin (24/6/2019)./Bisnis-Himawan L Nugraha
Presiden Direktur PT Central Proteina Prima Tbk Irwan Tirtariyadi (kanan) didampingi Wakil Presiden Direktur Saleh memberikan keterangan pada saat paparan publik, di Jakarta, Senin (24/6/2019)./Bisnis-Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - PT Central Proteina Prima (Persero) Tbk. (CPRO) menyiapkan belanja modal sebesar Rp95 miliar untuk memperkuat bisnis pakan ternak dan hewan peliharaan.

Vice President Director CPRO Saleh Yu mengatakan bahwa perseroan menganggarkan belanja modal sebanyak Rp95 miliar pada 2019. Saleh menyebutkan sumber dana itu masih berasal dari internal kas perusahaan.

“Penggunaan capex sudah terutilisasi sebanyak Rp26,9 miliar sedangkan porsi paling besar untuk capex tahun ini adalah [pembangunan] building sebesar Rp33 miliar. Itu adalah mesin pakan dan sebagainya,” katanya, pada Senin (24/6/2019).

Saleh menambahkan, dengan besaran tersebut kapasitas produksi pakan ternak dan hewan peliharaan ditargetkan dapat bertambah. Dengan demikian, porsi penjualan juga dapat ditingkatkan.

Saat ini, CPRO memiliki kapasitas pabrik pakan ternak dan hewan peliharaan terpasang sebesar 660.000 ton. Saleh menyebut kapasitas itu sudah bertambah 40.000 ton dibandingkan dengan tahun lalu. Sementara itu, total penjualan pakan ikan dan hewan peliharaan mencapai 500.000 ton.

Perusahaan aquakultur itu, lanjutnya, akan menitik berat penggunaan capex untuk perawatan dan pemeliharaan mesin. Namun, belum ada anggaran untuk menambah kapasitas lebih dari 660.000 ton.

“Mungkin tahun depan baru aka nada penambahan kapasitas lagi, tapi untuk sementara belum. Saat ini pakan ada dua tipe yaitu pakan ikan apung dan pakan ikan tenggelam. Tren sudah beralih ke pakan ikan apung dan kita akan investasi disitu,” ungkapnya.

Sebagai informasi, 70% kapasitas pabrik pakan ikan perseroan adalah untuk segmen ikan apung. Lebih lanjut, Saleh menyebut bahwa pada 2019 CPRO menargetkan bisa meningkatkan penjualan 5%-10%. Dia tidak mengelak bila itu adalah target yang moderat sebab tahun ini perseroan mengalami tantangan yang berat.

Sebagai ilustrasi, pendapatan CPRO pada kuartal 1/2019 menurun Rp51 juta dibandingkan penjualan kuartal I/2018 karena berkurangnya penjualan pakan udang, makanan olahan, dan benur udang.

“Target revenue naik 5% dibandingkan tahun lalu, sedangkan EBITDA antara 10%-15%. Target top line kecil karena pertumbuhan industri kita memang segitu. Tapi, memang tergantung domestic consumption. Apalagi bisnis pakan ikan itu sedikit banyak berkorelasi dengan bisnis ayam ya. Jadi kalau ayam turun kita sedikit banyak juga kena. Tapi kalau ayam naik tinggi mungkin konsumen akan pindah ke ikan,” katanya.

Sementara itu, ketika ditanya perihal kemungkinan penaikkan harga pakan ikan, Saleh menyebut itu masih tergantung bisnis pakan ayam. Pasalnya, tidak mungkin menaikkan harga pakan ikan di tengah jatuhnya harga ayam. Perseroan, lanjutnya, tetap melakukan efisiensi biaya dengan mengganti beberapa bahan baku impor seperti bungkil kedelai dengan local seperti bekatul atau produk sampingan terigu.

“Tapi kalau ada potensi [menaikkan harga] kita pasti akan lakukan, sekarang kami lihat kondisi pasar dulu,” ungkapnya.

Saleh berharap kinerja perseroan akan jauh lebih baik pada semester kedua ditopang dengan cuaca yang baik serta permintaan yang tumbuh.

Sementara itu, Corporate Secretary CPRO Armand Ardika menyebut bahwa turunnya kinerja di kuartal I/2019 akibat kondisi cuaca pada awal tahun yang cenderung kurang kondusif terhadap kegiatan budidaya. Apalagi, curah hujan yang relatif tinggi menyebabkan penurunan produktivitas hasil panen dari tambak-tambak udang.

“Harga udang internasional yang menunjukkan tren pelemahan juga menyebabkan para petambak untuk menangguhkan penebaran benur.  Kondisi cuaca juga berdampak negatif pada hasil produksi fasilitas pembibitan para pelaku budidaya perikanan, sehingga kesediaan benur udang yang siap tebar terbatas,” tambahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Pandu Gumilar
Editor : Riendy Astria
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper